Ketua tim pengabdian, Harlina Meidiaswati, menegaskan bahwa pemahaman mengenai risiko merupakan bekal penting bagi pengelola agar dapat mengambil keputusan secara lebih terukur dan mengantisipasi potensi kerugian sejak dini.
“Pengelola diberikan pemahaman pentingnya mengelola risiko sehingga tidak sampai menimbulkan kerugian yang tidak terukur,” ujarnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pelatihan dirancang melalui pembekalan materi, diskusi interaktif, simulasi, dan praktik langsung. Peserta diperkenalkan pada penyusunan risk register atau daftar risiko, identifikasi bahaya, penilaian risiko, serta penentuan langkah pengendalian melalui metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC). Peserta juga mempelajari penggunaan matriks risiko 5×5 untuk mengukur tingkat risiko berdasarkan kemungkinan terjadinya suatu kejadian dan besarnya dampak yang ditimbulkan.
Materi kemudian diterapkan melalui latihan kelompok yang berfokus pada persoalan nyata dalam aktivitas UMKM dan pengelolaan Desa Wisata Sepande. Peserta mengidentifikasi berbagai potensi risiko, menelaah faktor penyebab dan dampaknya, serta menentukan tingkat risiko yang perlu mendapat perhatian lebih dahulu.
Selanjutnya, peserta mengevaluasi pengendalian yang telah tersedia dan menyusun langkah mitigasi yang sesuai dengan kondisi usaha maupun pengelolaan wisata. Latihan dilengkapi dengan penyusunan indikator pemantauan dan jadwal evaluasi berkala agar risiko dapat ditinjau kembali ketika kondisi operasional mengalami perubahan.
Melalui pendekatan praktik tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep manajemen risiko, tetapi juga mampu menggunakannya sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan sehari-hari. Pencatatan risiko dan penetapan prioritas penanganan dapat membantu pengelola mengenali persoalan lebih awal, meningkatkan kesiapan menghadapi insiden, serta menjaga kualitas layanan kepada wisatawan.
Program ini menargetkan tersusunnya daftar dan peta risiko desa wisata beserta panduan praktis manajemen risiko yang dapat digunakan sebagai acuan pengelolaan. Keberadaan perangkat tersebut diharapkan mendukung koordinasi antarpihak, memperkuat budaya sadar risiko, dan membantu menjaga keberlanjutan kegiatan ekonomi masyarakat.
Harlina berharap pengetahuan yang diberikan dalam pelatihan dapat diterapkan secara konsisten dan diteruskan kepada pelaku UMKM lainnya. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada 24 peserta, tetapi dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha yang menjadi bagian dari ekosistem wisata Sepande.
“Semoga program ini benar-benar bermanfaat, mudah dipraktikkan, dan dampaknya terasa luas, tidak hanya bagi pengelola tetapi juga seluruh pelaku UMKM di desa wisata,” pungkasnya.





