BERITASIBER.COM | SIBOLGA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Kota Sibolga dan unsur terkait terus mengintensifkan penanganan dampak banjir dan tanah longsor yang melanda Kota Sibolga, Sumatera Utara. Hingga Kamis (18/12/2025), bencana tersebut tercatat berdampak pada empat kecamatan, yakni Sibolga Utara, Sibolga Selatan, Sibolga Sambas, dan Sibolga Kota.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Salah satu fokus utama penanganan saat ini adalah pembersihan dan normalisasi Sungai Aek Doras yang sebelumnya meluap dan memicu banjir di permukiman warga. Seiring berjalannya proses pemulihan, aktivitas masyarakat mulai berangsur normal. Kegiatan belajar mengajar telah kembali berlangsung, distribusi bahan bakar minyak berjalan relatif lancar meski antrean masih terlihat di beberapa SPBU, serta pasokan listrik, telekomunikasi, dan air bersih perlahan pulih.

Laporan sementara mencatat, bencana ini menyebabkan 54 orang meninggal dunia, satu orang masih dinyatakan hilang, serta 61 warga mengalami luka-luka. Sementara itu, sebanyak 1.232 warga terpaksa mengungsi dan tersebar di 16 lokasi pengungsian pada tujuh kelurahan, dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Sibolga Utara dan Sibolga Selatan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pemerintah Kota Sibolga telah menetapkan status tanggap darurat selama dua kali periode. Status pertama berlaku pada 25 November hingga 9 Desember 2025, kemudian diperpanjang hingga 23 Desember 2025. Selama masa tersebut, koordinasi lintas sektor dilakukan secara intensif melibatkan BNPB, instansi vertikal, organisasi perangkat daerah, dunia usaha, tokoh masyarakat, akademisi, hingga media.

Berbagai langkah penanganan telah dilakukan, mulai dari pembersihan lumpur di jalan-jalan utama, pemulihan aliran sungai, pendataan dan verifikasi penerima bantuan, pengoperasian dapur umum, hingga pelayanan administrasi kependudukan bagi warga terdampak. Pemerintah juga terus berupaya memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat yang sempat terhenti akibat bencana.

Kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan bencana cukup signifikan, meliputi 11 rumah ibadah, delapan gedung sekolah, dua jembatan, 11 ruas jalan, lima gedung milik pemerintah daerah, serta sembilan titik lampu penerangan jalan umum. Hingga kini, kebutuhan mendesak yang masih diperlukan antara lain pompa air, pasokan gas LPG ukuran 3 kilogram dan 12 kilogram, serta perlengkapan sekolah bagi siswa tingkat dasar hingga menengah.

Pada hari yang sama, tim gabungan BNPB dan pemerintah daerah melakukan pemantauan langsung penyaluran bantuan logistik dan air bersih ke 19 titik lokasi. Selain itu, layanan kesehatan terus diberikan kepada warga terdampak, pembersihan sungai dan lingkungan permukiman dilanjutkan, serta kegiatan dukungan psikososial atau trauma healing bagi anak-anak turut dilaksanakan.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2