Sebagai langkah konkret di lapangan, BPBD Jatim bersama tim gabungan di tingkat kabupaten mulai menyalurkan bantuan tangki air bersih. Prioritas diberikan kepada wilayah yang masuk dalam kategori kering ekstrem, di mana warga sudah tidak lagi memiliki akses terhadap air sumur maupun sumber mata air alam.

Distribusi perdana terpantau telah menjangkau Desa Kleken, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso. Sebanyak 10.000 liter air bersih dikirimkan untuk menyambung hidup sekitar 140 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak. Warga di wilayah tersebut mengaku telah kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan memasak dan minum selama beberapa pekan terakhir.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selain krisis air bersih, musim kemarau ekstrem juga membawa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menilik data tahun 2025, tercatat ada 44,3 hektare lahan yang hangus terbakar serta 3 area hutan yang mengalami kerusakan akibat api. Dengan cuaca yang lebih panas pada tahun ini, risiko kebakaran diprediksi akan meningkat dua kali lipat.

BPBD Jatim terus mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di lereng gunung dan area perbatasan hutan, untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan.

“Kami minta warga aktif melapor melalui call center BPBD jika menemukan titik api atau jika wilayahnya sudah mulai kesulitan air. Mitigasi lebih dini adalah kunci agar dampak kekeringan tidak meluas menjadi krisis pangan atau kesehatan,” tutup Gatot.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau pergerakan awan dan potensi hujan buatan (teknologi modifikasi cuaca) jika kondisi kekeringan terus memburuk dalam beberapa bulan ke depan.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2