Rektor menjelaskan bahwa peningkatan kualitas di Unisda kini mencakup integrasi sistem tata kelola yang lebih transparan, pemutakhiran sarana dan prasarana pendukung akademik, serta pengembangan SDM dosen yang kompetitif. Bagi pihak universitas, masukan dari para pengguna lulusan (stakeholder) dan pengalaman nyata dari para alumni di dunia kerja adalah kompas dalam menetapkan arah kebijakan strategis ke depan.
“Komitmen kami adalah memberikan pelayanan prima bagi masyarakat. Kami menyadari bahwa tuntutan dunia kerja terus berubah. Melalui forum ini, kami ingin memastikan bahwa setiap kebijakan pengembangan kurikulum dan layanan akademik yang kami ambil senantiasa selaras dengan kebutuhan user dan perkembangan zaman,” tambah Hafidh.
Diskusi yang berlangsung dalam FGD tersebut berjalan sangat dinamis. Para peserta memberikan masukan komprehensif, mulai dari perlunya penyesuaian kurikulum berbasis link and match, peningkatan soft skills bagi mahasiswa, hingga perluasan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Rekomendasi-rekomendasi tersebut nantinya akan dikaji secara mendalam oleh tim pengembang kurikulum di tiap program studi. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing lulusan Unisda di pasar tenaga kerja, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Dengan terselenggaranya FGD ini, Unisda Lamongan semakin memantapkan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga sangat adaptif terhadap ekosistem sosial dan ekonomi. Sinergi yang terjalin erat antara kampus dan para pemangku kepentingan diharapkan menjadi fondasi kuat dalam melahirkan generasi lulusan yang tidak hanya siap kerja, namun juga mampu menciptakan inovasi bagi kemaslahatan masyarakat luas.





