Meski demikian, Wiwit memberikan catatan kritis terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai merugikan timnya. Ia menyoroti beberapa insiden, seperti benturan keras kiper lawan ke wajah Ockta Prana, dorongan siku di area terlarang, hingga pelanggaran handball yang hanya berbuah tendangan bebas.

“Ini menjadi evaluasi bersama ke depan,” tegasnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menatap babak delapan besar, Sparta Pena FC mendapat angin segar dengan kembalinya sejumlah pemain yang sempat absen. Modal ini sangat krusial mengingat lawan yang akan dihadapi di fase gugur adalah Senkom Polri, runner-up Grup C.Senkom Polri bukan lawan sembarangan. Mereka dikenal sangat produktif setelah menggelontorkan 12 gol hanya dalam tiga pertandingan di fase grup.

Walau menghadapi lawan tangguh, status juara grup menjadi suntikan motivasi bagi Sparta Pena FC untuk menjaga asa juara di turnamen antarlembaga ini.

“Tantangan berikutnya lebih berat. Karena itu kami harus tetap fokus dan menjaga konsistensi permainan,” pungkas Wiwit. (Edi Marpaung)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2