Skenario lain yang dipaparkan Hanta, yakni perolehan suara masing-masing paslon pada 27 November nanti bergantung pada cara mereka meyakinan para undecided voters yang jumlahnya masih cukup besar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selain itu, lanjut Hanta, elektabilitas Khofifah-Emil diprediksi berpotensi akan turun. Sebab sebagai pasangan petahana, konsistensi suara mereka tergantung dari approval rating atau tingkat kepuasan warga.

“Tinggal pada undecided ini akan ke mana. Rumusnya dalam hukum elektoral, petahana relatif memang lebih bisa cendrung turun ketimbang naik, tapi apakah peluang Khofifah faktor incumbent ini bisa lebih besar menaikkan atau menurunkan, kita harus melihat tingkat kepuasannya,” tuturnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sementara itu dalam kategori perorangan bakal calon gubernur, elektabilitas Khofifah berada di posisi teratas sebesar 55,3 persen, disusul Risma dengan 22,8 dan Luluk 1,8 persen, sementara ada 20,1 persen belum menentukan pilihan yaitu tidak tahu dan tidak jawab.

Sedangkan elektibilitas para bakal calon wakil gubernur, Emil unggul di angka 51,7 persen, Gus Hans 9,9 persen, dan Lukman 3,2 persen. pemilih yang tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 35,2 persen.

Sebagai informasi, survei Poltracking Indonesia dilakukan pada 4-10 September 2024 dengan metode multistage random sampling, pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka.

Survei dilakukan di 38 kabupaten/kota di seluruh Jatim. Total ada 1.200 responden, dengan tingkat margin of error di angka 2,9 persen dan tingkat kepercayaan di angka 95 persen. (Bs)

Editor : Achmad Bisri

>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.com

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2