Nalikan juga menyoroti enam isu strategis pembangunan yang menjadi fokus bagi mahasiswa dan pendamping BBK, antara lain percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem dan penurunan angka stunting, pengembangan ekonomi berbasis pemberdayaan, peningkatan kualitas pelayanan publik melalui digitalisasi, peningkatan layanan dasar di bidang kesehatan dan pendidikan, optimalisasi produktivitas di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan, serta pengembangan wisata desa, pengelolaan BUMDes, dan pengelolaan lingkungan hidup.

“Pengembangan potensi ini bukanlah suatu hal yang dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Ini adalah proses berkelanjutan yang bisa berlangsung selama lima tahun atau lebih. Kami siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk menyediakan apa yang diperlukan, dan tentu saja, dukungan akademis dari Universitas Airlangga sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sementara itu, Direktur Pendidikan Universitas Airlangga, Profesor Sukardiman, mengungkapkan bahwa sebelum dikerahkan ke masyarakat selama 28 hari, mulai 7 Januari hingga 3 Februari, mahasiswa Unair telah menerima pembekalan dan melakukan survei untuk mengidentifikasi isu-isu di setiap desa.

“Kami berharap mahasiswa dapat menjadi katalisator dan akselerator dalam pembangunan, khususnya di desa-desa di Kabupaten Lamongan, dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan agroindustri. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat mempercepat kemajuan di daerah ini,” pungkasnya.

>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2