Sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Islam lain yang belum merayakan Idul Fitri, jamaah Tarekat Syattariyah tidak menggelar takbiran pada malam sebelumnya. Langkah ini diambil untuk menjaga suasana tetap kondusif serta menghormati perbedaan yang ada di tengah masyarakat.
Sementara itu, pihak kepolisian turut melakukan pemantauan guna memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib. Kapolsek Sukorejo, IPTU Agus Tricahyo Wiyono, menyampaikan bahwa pelaksanaan ibadah berlangsung lancar tanpa adanya gangguan keamanan.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dalam menjaga persatuan.
“Perbedaan ini jangan sampai memecah belah. Justru harus menjadi sarana untuk memperkuat toleransi dan kebersamaan,” tegasnya.
Fenomena perbedaan waktu perayaan Idul Fitri ini menjadi gambaran nyata keberagaman praktik keagamaan di Indonesia. Di tengah perbedaan tersebut, sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan menjadi kunci utama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Dengan suasana yang tetap kondusif, pelaksanaan Salat Idul Fitri oleh jamaah Tarekat Syattariyah di Ponorogo menjadi contoh bahwa perbedaan keyakinan dalam penentuan hari raya dapat berjalan berdampingan dengan nilai toleransi yang tinggi.






