Ia memastikan kegiatan pendampingan psikologis akan terus dilakukan selama masa tanggap darurat sebagai wujud komitmen Polri dalam memberikan pelayanan kemanusiaan bagi seluruh korban bencana.
Kombes Abast menambahkan bahwa kehadiran Polri di pengungsian bukan hanya dalam aspek pengamanan, tetapi juga dalam mendukung pemulihan mental para pengungsi.
“Anak-anak adalah kelompok paling rentan dan mereka membutuhkan pendampingan berkelanjutan,” tegasnya.
Para orang tua pengungsi memberikan apresiasi atas perhatian Polri terhadap anak-anak mereka. Mereka berharap kegiatan serupa terus dilakukan hingga situasi kembali stabil.
Program trauma healing ini menjadi bagian dari langkah cepat Polri dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana dan memastikan kehadiran negara terasa di tengah warga yang sedang menghadapi masa sulit.





