Sebagai perajin alat pertanian, Rubianto mengaku margin keuntungan usahanya tidak besar. Untuk satu bilah pisau besar, keuntungan bersih yang diperoleh hanya sekitar Rp5 ribu, sementara modal dan biaya produksi mencapai Rp35 ribu. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena usaha tersebut mampu menopang kehidupan keluarga.
Di tengah keterbatasan tersebut, Rubianto dan Khiriyah memilih tidak menyerah. Mereka menerapkan pola hidup sederhana dan disiplin menabung. Selain dari hasil penjualan alat pertanian, keduanya juga menyisihkan pendapatan tambahan dari beternak sapi.
Sedikit demi sedikit, tabungan haji dikumpulkan selama bertahun-tahun. Kesabaran dan keyakinan akhirnya membuahkan hasil ketika pasangan ini resmi mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada tahun 2012.
Setelah menanti selama 14 tahun, impian yang selama ini diperjuangkan akhirnya menjadi kenyataan. Pada Mei 2026, Rubianto dan Khiriyah akan berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Kisah pasangan asal Nganjuk ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi siapa pun yang memiliki niat kuat dan usaha yang sungguh-sungguh. Keringat yang menetes dari kerja keras selama puluhan tahun akhirnya mengantarkan mereka menuju panggilan suci.
Di usia yang tidak lagi muda, Rubianto dan Khiriyah membuktikan bahwa kesabaran, ketekunan, serta doa yang terus dipanjatkan mampu membuka jalan menuju keberkahan. Kisah mereka pun menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk tidak pernah menyerah dalam meraih impian, terutama impian mulia menuju Tanah Suci.





