Ali menilai, kunci keberhasilan ini adalah komitmen masyarakat Pematangsiantar yang sejak lama menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Ia menegaskan bahwa warga Pematangsiantar memiliki kesadaran kolektif untuk menghindari segala bentuk perselisihan yang dapat memicu perpecahan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lebih lanjut, Ketua FKUB ini menekankan bahwa kerukunan bukan sekadar angka atau penghargaan, melainkan modal utama bagi pembangunan kota. Dengan situasi yang rukun, damai, dan aman, masyarakat dapat beraktivitas, mencari nafkah, serta menjalankan ibadah dengan tenang dan nyaman.

“Jika hidup rukun dan silaturahmi terjaga, maka pembangunan kota pasti akan berjalan lancar. Di Siantar ini kita satu saudara, tidak ada sekat yang memisahkan. Kita selalu mengedepankan musyawarah dan kebersamaan, itulah mengapa kita selalu bisa hidup berdampingan dengan damai,” jelas Ali.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Meski telah berada di papan atas kota toleran se-Indonesia, Ali tidak ingin terlena. Ia menargetkan agar ke depan, sinergitas antara pemerintah dan masyarakat terus ditingkatkan sehingga peringkat Kota Pematangsiantar bisa terus merangkak naik hingga mencapai posisi tiga besar, bahkan peringkat pertama.

“Harapan saya, seluruh pihak tetap konsisten menjaga kerukunan ini. Semoga ke depan kita bisa mendapat juara 3, juara 2, dan akhirnya menjadi juara 1 sebagai kota paling toleran di Indonesia. Mari kita jaga Siantar tetap rukun dan damai untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman di Pematangsiantar bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan kota.(Pirhot Nababan).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2