Ia juga mengulas peta dakwah digital, mulai dari pemahaman karakter audiens, algoritma media sosial, hingga strategi produksi konten. Setiap platform, seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X (Twitter), memiliki karakteristik dan pendekatan dakwah yang berbeda.

Instagram dinilai efektif untuk konten visual edukatif dan motivatif, sementara TikTok dan YouTube membutuhkan kreativitas, konsistensi, serta kemampuan storytelling agar pesan dakwah dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selain aspek teknis, peserta juga dibekali pemahaman etika dakwah digital berbasis Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Etika tersebut berpijak pada nilai-nilai dasar Islam seperti tauhid, akhlak mulia, dan kemaslahatan, serta prinsip kehati-hatian, keseimbangan informasi, dan tanggung jawab dalam bermedia.

Menutup materinya, M. Nur Ali Zulfikar mengajak kader IMM untuk menyusun strategi kampanye dakwah digital berbasis data dan literasi media, dengan menekankan konsistensi antara narasi, aksi, dan kolaborasi. Nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, keadilan sosial, dan kepedulian lingkungan disebut sebagai isu penting yang perlu dibumikan dalam dakwah mahasiswa.

Pelatihan PM3 IMM Lamongan ini diharapkan mampu melahirkan mubaligh mahasiswa yang tidak hanya cakap secara keilmuan, tetapi juga kreatif dan berdaya saing di ruang digital, serta mampu menghadirkan dakwah Islam yang berkemajuan di tengah derasnya arus informasi.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2