BERITASIBER.COM | YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan tersebut didasarkan pada penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem penanggalan Islam yang mengedepankan keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menjelaskan secara rinci landasan ilmiah dan metodologis dari penetapan tersebut.
Menurutnya, KHGT dibangun di atas prinsip utama “one day, one date globally”, yaitu satu hari dan satu tanggal yang sama untuk seluruh umat Islam di dunia.
“Prinsip ini hanya dapat diwujudkan jika bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla’, tanpa pembagian zona penanggalan berbasis wilayah. Selama masih ada pembagian regional, maka keseragaman kalender global tidak mungkin tercapai,” ujar Rahmadi seperti dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, Minggu (15/2/2026).
Ia menegaskan bahwa penyusunan kalender dalam Islam secara ilmiah hanya dapat dilakukan melalui metode hisab atau perhitungan astronomi. Metode rukyat, kata dia, hanya mampu memberikan kepastian satu bulan ke depan sehingga tidak memadai untuk membangun sistem kalender jangka panjang yang stabil dan terukur.
Dalam penerapannya, KHGT menggunakan prinsip ittihadul mathali’, yakni kesatuan matla’ secara global, dengan dua parameter utama sebagai syarat dimulainya bulan baru. Pertama, elongasi atau jarak sudut bulan dan matahari minimal delapan derajat. Kedua, ketinggian hilal saat matahari terbenam minimal lima derajat. Kedua parameter tersebut harus terpenuhi di wilayah daratan mana pun di bumi sebelum pukul 24.00 GMT.
Apabila syarat utama ini belum terpenuhi, maka digunakan parameter lanjutan. Salah satunya adalah terjadinya konjungsi atau ijtimak di Selandia Baru sebelum waktu fajar, disertai terpenuhinya kriteria elongasi dan ketinggian hilal di wilayah daratan benua Amerika.
“Fajar dijadikan batas karena ia menandai dimulainya puasa. Dengan parameter ini, kami memastikan tidak ada wilayah di dunia yang tertinggal atau mendahului penanggalan global,” jelas Rahmadi.
Berdasarkan hasil hisab, konjungsi bulan pada Februari 2026 terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 GMT. Namun hingga sebelum pukul 24.00 GMT, belum ada wilayah yang memenuhi kriteria utama. Oleh karena itu, Majelis Tarjih menggunakan parameter lanjutan.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa konjungsi di Selandia Baru terjadi sebelum waktu fajar, sementara di Bethel, Alaska, elongasi dan ketinggian hilal telah melampaui batas minimal yang ditetapkan. Dengan terpenuhinya dua parameter lanjutan tersebut, maka secara global awal Ramadan ditetapkan pada keesokan harinya, yakni Rabu, 18 Februari 2026.
Rahmadi menegaskan bahwa dalam sistem KHGT, posisi hilal di Indonesia tidak menjadi faktor penentu. Meski pada saat itu hilal di Indonesia, Makkah, dan Turki masih berada di bawah ufuk, terpenuhinya kriteria di satu wilayah dunia dianggap berlaku secara global.
“Karena kita menganut kesatuan matla’, maka keterpenuhan parameter di Alaska ditransfer secara global. Inilah yang menjadi dasar utama penetapan 1 Ramadan pada 18 Februari,” tegasnya.
Ia berharap, dengan kepastian kalender global ini, umat Islam dapat merencanakan ibadah dengan lebih baik dan terstruktur, sekaligus memperkuat persatuan umat dalam menyambut bulan suci Ramadan.
“Semoga kita semua diberi kesehatan dan umur panjang untuk menyambut Ramadan dan menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya,” pungkas Rahmadi.





