Para pendukung metode ini menekankan pada aspek kesatuan umat (ukhuwah) tanpa tersekat batas negara. Dasar pemikirannya adalah keumuman perintah Rasulullah ﷺ untuk berpuasa saat hilal terlihat, tanpa membatasi di mana hilal tersebut muncul. Meski menantang secara teknis karena perbedaan zona waktu yang ekstrem, metode ini tetap menjadi rujukan bagi sebagian komunitas Muslim internasional.
3. Hisab Falakiyah: Kepastian Ilmiah Wujudul Hilal
Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, konsisten menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Metode ini tidak lagi mengandalkan pengamatan mata telanjang, melainkan perhitungan astronomi yang presisi.
Awal bulan ditetapkan jika memenuhi tiga kriteria matematis: telah terjadi konjungsi (ijtimak), konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, dan saat matahari terbenam bulan sudah berada di atas ufuk. Keunggulan metode ini adalah memberikan kepastian jadwal ibadah hingga bertahun-tahun ke depan, sehingga memudahkan masyarakat dalam perencanaan kegiatan.
Kedewasaan dalam Beragama
Perbedaan kriteria seperti derajat ketinggian hilal (misalnya kriteria MABIMS yang mensyaratkan 3 derajat) sering menjadi titik perbedaan hasil antara metode rukyat dan hisab. Namun, substansi dari semua metode ini adalah sama: menunaikan ibadah sesuai syariat.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” Perbedaan metode adalah cermin dari dinamisnya ilmu pengetahuan Islam.
Sikap terbaik bagi seorang Muslim adalah menghormati keputusan otoritas yang diyakini dan tidak menjadikan perbedaan tanggal sebagai pemicu perpecahan. Fokus utama tetaplah pada peningkatan kualitas iman, takwa, dan keikhlasan dalam menjalani ibadah di bulan yang penuh berkah.






