Inisiatif mandiri ini mendapatkan apresiasi dari petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Petugas menilai kearifan lokal seperti ini sangat membantu tugas lapangan, terutama dalam proses identifikasi jemaah jika terjadi kasus jemaah yang bingung arah jalan pulang menuju hotel.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Meski demikian, PPIH tetap memberikan imbauan tegas agar jemaah tidak hanya mengandalkan penanda non-formal tersebut. Kepala petugas kloter senantiasa mengingatkan agar atribut resmi yang diberikan pemerintah tetap menjadi prioritas utama.

“Kami sangat menghargai kreativitas jemaah asal Lamongan. Ini adalah bentuk kekompakan yang luar biasa. Namun, kami tetap mewajibkan jemaah untuk selalu memakai gelang identitas logam, kartu jemaah, dan tas paspor. Atribut resmi tersebut adalah kunci utama keselamatan jika jemaah benar-benar terpisah jauh atau membutuhkan bantuan medis,” ungkap salah satu petugas PPIH di sektor Madinah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Strategi “Mawar Merah” ini menjadi bukti nyata bagaimana jemaah haji Indonesia selalu memiliki cara unik untuk saling menjaga (caregiving) satu sama lain. Dengan jadwal ibadah yang padat mulai dari salat berjamaah di Arbain hingga ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah faktor koordinasi menjadi sangat krusial.

Keberadaan simbol mawar ini diharapkan tidak hanya meminimalisir angka jemaah tersesat, tetapi juga membangun ikatan emosional dan semangat kebersamaan selama menjalankan rukun Islam kelima.

Hingga berita ini diturunkan, rombongan jemaah asal Lamongan dilaporkan dalam kondisi sehat dan kompak, siap melanjutkan rangkaian ibadah menuju fase puncak haji di Makkah dalam beberapa pekan mendatang.

“Yang utama adalah rukun, kompak, dan saling menjaga. Mawar ini hanya alat, tapi hati yang saling peduli itulah yang membuat kami semua merasa aman di tanah suci,” pungkas Siti Fatimah dengan senyum optimis.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2