Tak hanya di Asia Tenggara, tren peningkatan penjualan kendaraan listrik juga terjadi di beberapa negara lain. Di Selandia Baru, penjualan BYD dilaporkan meningkat hingga empat kali lipat, sementara di Thailand, sejumlah dealer MG Motor mencatat kenaikan penjualan sekitar 20 persen sejak krisis energi terjadi.

Menurut Chief Economist Asian Development Bank, Albert Park, tingginya harga minyak memang secara historis menjadi pendorong utama percepatan transisi ke energi alternatif, termasuk kendaraan listrik.

“Kenaikan harga minyak menciptakan insentif ekonomi yang kuat bagi masyarakat untuk beralih ke teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Secara global, penggunaan kendaraan listrik telah membantu mengurangi konsumsi minyak hingga jutaan barel per hari. Namun, tantangan masih tetap ada, terutama terkait ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang belum merata di banyak negara.

Meski demikian, para analis memprediksi tren ini akan terus berlanjut setidaknya dalam satu hingga dua tahun ke depan. Produsen kendaraan listrik, khususnya dari China, diperkirakan akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari pergeseran ini.

Krisis energi yang terjadi saat ini pada akhirnya tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga momentum penting dalam mempercepat transformasi menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan di kawasan Asia.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2