Hal ini sejalan dengan semangat kedaulatan pangan, yaitu kemampuan masyarakat untuk menentukan sendiri sistem pangan yang sesuai dengan potensi lokal dan kebutuhan domestik.

Dalam hal ini, koperasi menjadi jembatan antara produsen dan konsumen lokal, sehingga terbangun sistem ekonomi yang lebih berkeadilan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tidak kalah pentingnya adalah peran pemerintah. Selama ini, pemerintah lebih sering menempatkan diri sebagai fasilitator menyediakan pelatihan, bantuan alat, atau akses pasar. Namun di era ini, peran tersebut harus ditingkatkan. Pemerintah harus menjadi regulator aktif yang mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan koperasi dan UMKM.

Regulasi yang pro terhadap koperasi dan UMKM perlu difokuskan pada tiga hal utama. Pertama, kemudahan akses terhadap pembiayaan murah dan tanpa agunan yang memberatkan.

Kedua, perlindungan pasar lokal dari serbuan produk luar yang berharga murah namun berkualitas rendah. Ketiga, insentif fiskal dan non-fiskal bagi koperasi yang mampu berinovasi dan mendigitalisasi layanannya.

Koperasi Merah Putih bisa menjadi tulang punggung kebangkitan ekonomi nasional jika seluruh elemen bangsa mendukung perannya secara konkret. Dunia pendidikan tinggi, termasuk fakultas ekonomi dan bisnis, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi mitra strategis dalam riset, pendampingan, dan edukasi masyarakat koperasi.

Dengan pendekatan quadruple helix melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan komunitas maka ekosistem koperasi yang kuat akan terbangun.

Penting pula untuk membangun jaringan koperasi antar daerah melalui digital platform berbasis data. Ini tidak hanya membuka akses pasar yang lebih luas, tetapi juga mempercepat pertukaran pengetahuan, kolaborasi produksi, dan inovasi model bisnis. Koperasi yang modern adalah koperasi yang terkoneksi, adaptif, dan berbasis data.

Dengan demikian, Koperasi Merah Putih bukan hanya lambang nasionalisme ekonomi, tetapi juga jawaban konkret atas tantangan globalisasi, krisis pangan, dan ketimpangan pembangunan antar wilayah. Kita memerlukan koperasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai-nilai luhur bangsa.

Mari kita jadikan Koperasi Merah Putih sebagai gerakan bersama. Sebuah gerakan yang bukan hanya bertumpu pada semangat gotong royong, tetapi juga pada kecerdasan inovatif, keberpihakan pada rakyat kecil, dan keberlanjutan ekonomi lokal.

Inilah saatnya koperasi tidak hanya menjadi lembaga ekonomi alternatif, melainkan menjadi arus utama pembangunan ekonomi Indonesia yang berdaulat dan berkeadilan.

Oleh: Dr. H. Abid Muhtarom,SE ,SPd.,MSE (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Lamongan)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2