Selain meninjau aspek teknis, verifikasi juga mencakup penilaian terhadap menu yang disajikan. Putranto mengapresiasi upaya SPPG di Lamongan yang dinilai mampu menghadirkan makanan bergizi yang tetap sesuai dengan selera anak-anak. Ia juga menggarisbawahi pentingnya komunikasi berkelanjutan tentang gizi kepada pelaksana lapangan, seperti Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
“Makanan yang diberikan bukan hanya enak dan disukai anak-anak, tapi juga memiliki nilai gizi tinggi dan disiapkan dengan pemahaman yang kuat oleh tenaga yang kompeten,” ungkap Putranto.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lamongan menyampaikan bahwa saat ini sebanyak 22 SPPG telah beroperasi di Lamongan, sementara 75 SPPG lainnya tengah dalam tahap persiapan. Setiap satuan pelayanan tersebut rata-rata menyajikan antara 3.000 hingga 4.000 porsi makanan bergizi setiap harinya.
“Kami terus melakukan pembenahan agar pelaksanaan program MBG ini sesuai standar Badan Gizi Nasional. Selain menjamin kualitas gizi, kami ingin program ini efisien, terstruktur, dan tepat sasaran,” ujar Pak Yes.
Guna mempercepat pelaksanaan dan memastikan kesesuaian regulasi, Pemerintah Kabupaten Lamongan juga telah membentuk satuan tugas (Satgas) khusus yang memantau langsung implementasi di lapangan serta berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional.
Verifikasi lapangan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam mewujudkan program strategis nasional. Dengan dukungan penuh dari Pemkab Lamongan dan pengawasan intensif dari Kantor Staf Presiden, implementasi program MBG di Lamongan diharapkan dapat menjadi model percontohan nasional dalam hal efektivitas, kebersihan, keberlanjutan, dan edukasi gizi berbasis komunitas.(Bs).





