“Bahwa nanti tanggal baru berlaku untuk semua negara. Seperti kalender Masehi, tidak masalah,” ujarnya.
Jika kita tetap menggunakan kalender masing-masing negara, maka Muhammadiyah meyakini kemungkinan besar akan terus terjadi perbedaan dalam menentukan waktu-waktu penting bagi umat Islam.
Saat itu, Haedar berharap dengan menjalankan ibadah selama Ramadan dapat menumbuhkan sikap masyarakat yang menghargai perbedaan.
Puasa Ramadan, kata dia, tidak hanya sekedar pergantian waktu makan, tapi juga meningkatkan ketakwaan dan kesalehan umat Islam.
“Dalam pandangan Muhammadiyah, ketakwaan tidak hanya pada perorangan atau perseorangan saja, tetapi juga pada keluarga, komunitas sosial, bahkan kesalehan pada bangsa dan masyarakat,” ujarnya.(bs)
Editor : Achmad Bisri





