Rijaal mengaitkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mata dengan tantangan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Ia menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang mencatat 82 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun belum mencapai kompetensi minimum bidang matematika.

“Kita memiliki cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045. Penglihatan yang baik memang bukan satu-satunya faktor penentu prestasi, tetapi merupakan fondasi penting agar anak dapat menerima pembelajaran dengan maksimal,” katanya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia menambahkan, pengendalian myopia tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Orang tua memiliki peran penting karena menjadi pihak yang paling dekat dengan anak dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan kebiasaan seperti sering menyipitkan mata, membaca dengan jarak terlalu dekat, mendekatkan wajah ke buku atau perangkat, maupun kesulitan melihat tulisan di papan kelas perlu menjadi perhatian.

Sementara itu, Dokter Spesialis Mata Eyelink Group, dr. Ria Sandy Deneska, Sp.M (K), menjelaskan bahwa peningkatan kasus myopia secara global hingga 2050 menjadi tantangan yang perlu diantisipasi sejak dini.

Menurutnya, pengenalan gejala dan pemeriksaan mata secara berkala dapat membantu memastikan anak memperoleh penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Saat ini, terdapat sejumlah pendekatan dalam Myopia Care, antara lain penggunaan kacamata dengan koreksi yang tepat, lensa defocus, obat tetes khusus, Orthokeratology (Ortho-K), hingga EDOF softlens.

“Seluruh penanganan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan mata secara menyeluruh oleh dokter mata dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pasien,” jelas dr. Ria.

Ia menekankan bahwa setiap anak memiliki kondisi mata yang berbeda sehingga pemilihan metode pengendalian myopia tidak dapat dilakukan secara seragam. Pemeriksaan komprehensif menjadi dasar penting sebelum menentukan tindakan yang tepat.

Gerakan “Vision Fest Myopia Care – Natamata” juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Puspitasari Wardani, mengapresiasi inisiatif tersebut.

“Kami mengapresiasi hadirnya Gerakan Sosial ‘Vision Fest Myopia Care – Natamata’ sebagai upaya memperkuat edukasi, deteksi dini, dan pencegahan di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Melalui gerakan tersebut, Eyelink Group dan Natamata berharap kepedulian terhadap kesehatan mata anak dapat semakin meluas. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk membangun kebiasaan menjaga kesehatan mata sekaligus mengendalikan perkembangan myopia sejak usia dini.

Dengan penguatan edukasi dan deteksi dini, anak-anak diharapkan dapat memperoleh kesempatan belajar dan tumbuh dengan kualitas penglihatan yang lebih optimal. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari investasi kesehatan generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2