“Contohnya, pengembangan Kampung Wista Kota yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pelestarian budaya setempat,” terangnya.
Ketiga adalah pemanfaatan teknologi.
Upaya selanjutnya yang harus dilakukan Pemerintah yakni mendorong penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sektor pariwisata. Hal ini secara langsung bakal membuka peluang kerja baru di bidang digital marketing, web development, dan aplikasi pariwisata.
“Seperti contoh dalam pengembangan platform online untuk pemesanan tiket wisata, akomodasi, guide local dan layanan lainnya. Hal ini dilakukan dengan pemanfaatan teknologi,” sambungnya.
Dan keempat, menurut Ariyanto diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan, Pemerintah, Organisasi Pariwisata, Lembaga Diklat, Agent Penyaluran Kerja Hotel dan Kapal Pesiar, pelaku usaha pariwisata, akademisi, dan masyarakat lokal bekerja sama dalam merumuskan strategi dan program yang tepat untuk mengatasi pengangguran di sektor pariwisata.
Namun upaya-upaya itu masih menghadapi berbagai tantangan, seperti minimnya akses permodalan bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM) pariwisata dan belum optimalnya koordinasi antar pemangku kepentingan.
“Meskipun demikian, dengan komitmen dan kerja sama yang berkelanjutan, maka diharapkan pengangguran di sektor pariwisata Kota Yogyakarta dapat dikurangi dan sektor ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat khususnya masyarakat kota Yogyakarta,” tutup pria yang juga Dirut Jogkem Group itu. (Wira)
Editor : Achmad Bisri






