Selain itu, gangguan gelombang atmosfer Low Frequency serta aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah Jawa Timur turut memperkuat pembentukan awan hujan.
Kondisi tersebut diperparah oleh suhu muka laut di wilayah Selat Madura yang masih tergolong hangat dan signifikan. Suhu laut yang tinggi berkontribusi terhadap meningkatnya suplai uap air ke atmosfer, sehingga mendukung terbentuknya awan-awan konvektif penyebab hujan lebat. Dinamika atmosfer lokal di wilayah Jawa Timur juga menjadi faktor pendukung terjadinya cuaca ekstrem dalam periode ini.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG serta meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor. Pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat diharapkan dapat melakukan langkah-langkah mitigasi dini guna meminimalkan risiko dan dampak bencana hidrometeorologi.
Dengan kesiapsiagaan dan kewaspadaan bersama, diharapkan potensi kerugian akibat cuaca ekstrem di Jawa Timur dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga.






