Selain dampak pendidikan, banjir berkepanjangan ini membuat Desa Bojoasri seolah terisolasi. Akses logistik, distribusi bahan makanan, dan kebutuhan pokok warga menjadi sangat terbatas. Warga mengaku hingga kini belum menerima bantuan yang memadai, meski kondisi banjir telah berlangsung lama.
Makin, salah seorang warga terdampak, menyampaikan keluhannya. Ia menyebut air di dalam rumahnya mencapai sekitar 30 sentimeter dan bertahan selama lebih dari dua bulan.
“Sudah lama sekali banjirnya. Sampai sekarang belum pernah dapat bantuan. Harapannya ada bantuan dan jalan desa ini ditinggikan supaya tidak terus-terusan kebanjiran,” ujarnya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Lamongan dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret. Selain bantuan logistik darurat, masyarakat juga mendesak adanya solusi jangka panjang, seperti normalisasi Sungai Bengawan Jero, perbaikan sistem drainase, serta peninggian infrastruktur jalan desa.
“Tanpa penanganan serius, banjir dikhawatirkan akan terus berulang dan semakin memperparah kondisi sosial, ekonomi, dan pendidikan warga Desa Bojoasri,” ungkapnya.





