Di luar apresiasi terhadap SMA Award, Ning Lia juga mengangkat isu penting yang belakangan marak di kalangan remaja, yaitu kejahatan siber (cybercrime). Menurutnya, generasi muda sangat rentan terhadap ancaman digital seperti penipuan online, pencurian data pribadi, serta konten negatif yang berdampak pada kesehatan mental.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Cybercrime bisa merusak mental, menjerumuskan ke dalam penipuan, pencurian identitas, hingga paparan konten yang berpotensi memicu stres, kecemasan, bahkan pikiran bunuh diri,” tegasnya.

Ning Lia menyoroti lemahnya pengawasan orang tua dan rendahnya literasi digital sebagai penyebab utama maraknya kejahatan siber di kalangan pelajar. Karena itu, ia mendorong sekolah-sekolah untuk lebih aktif mengedukasi siswa dalam penggunaan teknologi secara sehat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Upaya pencegahan perlu digalakkan. Mulai dari pendidikan hukum, sosialisasi bahaya siber, hingga pendampingan keluarga dalam aktivitas digital sehari-hari,” katanya.

Ia juga mengapresiasi beberapa sekolah yang telah memulai program kesadaran digital untuk siswa, seperti pelatihan keamanan siber dan kampanye anti-hoaks.

Menutup keterangannya, Ning Lia menyampaikan harapannya agar dunia pendidikan di Jawa Timur mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat, mental sehat, dan bijak dalam penggunaan teknologi.

“Pendidikan itu bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga soal kesiapan mental menghadapi tantangan zaman. Kita butuh generasi yang adaptif tapi tetap beretika,” pungkasnya.(Bs).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2