“Pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan adalah kunci. Setiap kenaikan 1 persen kepesertaan JKN berkorelasi positif dengan peningkatan pengeluaran per kapita sebesar 2,71 persen dan peningkatan angka harapan hidup hingga tiga tahun,” jelas Telisa.
Keberlanjutan program ini ditopang oleh fondasi keuangan yang sehat dan tata kelola yang transparan. BPJS Kesehatan mencatatkan aset bersih Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan sebesar Rp30,04 triliun. Pencapaian ini diperkuat dengan raihan opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTM) ke-12 kalinya secara berturut-turut, serta skor integritas yang tinggi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Untuk memastikan aksesibilitas yang inklusif, BPJS Kesehatan terus mengakselerasi transformasi digital. Inovasi seperti Aplikasi Mobile JKN, layanan PANDAWA (08118165165), dan Care Center 165 telah menjadi kanal utama bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan administrasi tanpa harus mengantre secara fisik. Upaya ini disinergikan dengan perluasan jejaring, yang mencakup lebih dari 33.000 fasilitas kesehatan mitra di seluruh pelosok negeri.
Meski mencatatkan kinerja positif, tantangan ke depan tetap ada. Sepanjang tahun 2025, biaya layanan kesehatan mencapai Rp191,3 triliun, di mana 26,42 persen di antaranya terserap oleh pembiayaan penyakit katastropik. Fenomena ini menjadi alarm bagi pentingnya penguatan aspek promotif dan preventif.
Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Stevanus Adrianto Passat, menekankan bahwa di tengah dinamika kebutuhan pelayanan yang terus meningkat, kolaborasi seluruh stakeholder menjadi kunci.
“Kami berkomitmen untuk terus menjaga profesionalisme dalam pengelolaan dana publik. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, pemberi kerja, dan fasilitas kesehatan sangat menentukan dalam menjamin keberlangsungan JKN agar tetap mampu melayani generasi mendatang,” pungkas Stevanus.
Dengan komitmen pada tata kelola yang baik dan inovasi layanan yang berkelanjutan, Program JKN diharapkan terus menjadi pilar utama dalam mencetak masyarakat Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing menuju visi Indonesia Emas 2045.





