Telkom sendiri menyiapkan arsitektur jaringan quantum-safe yang menggabungkan PQC, Quantum Key Distribution (QKD), dan Zero-Trust Architecture. Arsitektur tersebut dirancang untuk diterapkan mulai dari jaringan akses, jaringan inti, hingga pusat data.

Telkom juga disebut telah terlibat dalam satuan tugas migrasi PQC yang dipimpin Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tiga Peran Telkom untuk Ekosistem Kampus

Dalam memperkuat transformasi digital pendidikan tinggi, Telkom menempatkan diri dalam tiga peran utama.

Pertama, sebagai penyedia tulang punggung konektivitas dan infrastruktur digital nasional. Melalui InfraNexia, Telkom menyediakan sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang akan dikelola InfraNexia.

Ekosistem tersebut turut diperkuat dengan kehadiran AI-ready data center dan layanan cloud NeutraDC, platform Large Language Model (LLM) dan AI nasional, serta SOC nasional.

Kedua, Telkom mendorong inovasi di lingkungan kampus melalui skema joint lab, testbed, hingga membuka jalur komersialisasi hasil riset agar dapat dikembangkan menjadi solusi yang memiliki nilai ekonomi.

Ketiga, Telkom membuka akses terhadap teknologi mutakhir melalui kemitraan strategis dengan mitra global, skema investasi bersama berbasis konsumsi atau operational expenditure (OPEX), serta penjajakan dukungan pendanaan riset.

Sejumlah implementasi juga telah dilakukan, antara lain penyediaan produk AI bagi sejumlah universitas, pra-peluncuran platform kedaulatan yang mengintegrasikan AI, cloud, dan keamanan siber, serta program Digistar Class untuk mempercepat pengembangan talenta digital Indonesia.

Dorong Tiga Langkah Bersama

Melalui forum tersebut, Telkom mendorong perguruan tinggi melakukan tiga langkah untuk memperkuat fondasi transformasi digital.

Pertama, menyelaraskan tata kelola teknologi dengan menunjuk penanggung jawab di tingkat institusi. Kedua, memperkuat kolaborasi inovasi melalui pembangunan joint lab bersama Telkom. Ketiga, meningkatkan keamanan aset digital dengan melakukan inventarisasi kriptografi sebagai langkah awal menuju kesiapan menghadapi era komputasi kuantum.

Upaya tersebut sejalan dengan agenda pembangunan nasional melalui Asta Cita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 menuju Indonesia Emas 2045.

Telkom menilai pencapaian target tersebut membutuhkan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan media. Kolaborasi itu diarahkan untuk membangun tiga fondasi utama, yakni tata kelola, tulang punggung digital, dan talenta digital.

Dengan penguatan ketiga aspek tersebut, transformasi digital pendidikan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan kampus yang lebih terkoneksi, tetapi juga memiliki sistem digital yang aman, tangguh, dan mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi di masa mendatang.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2