Namun Benny melihat alat ukur kWh meter ternyata berfungsi dengan baik. Demikian juga hasil pencatatan stand meter kWh tidak ada keanehan. Maka, giliran untuk mempelajari pemakaian listrik di rumah.
Ternyata, Benny menemukan banyak alat elektronik yang digunakan di rumah ibu rumah tangga tersebut, yakni televisi tabung 2 unit, rice cooker 350 W/77 W, kulkas 150 W, seterika 300 W, dispenser 350 W, pompa air 150 W, lampu 4 buah @ 12 W, dan kipas angin.
Menurut Benny, penggunaan alat elektronik seperti itu di rumah dengan daya 1.300 VA wajar. Namun, apa yang membuat tarif listrik begitu mahal terkesan membengkak?
1. Rice Cooker 77 W
Penggunaan rice cooker secara terus menerus menjadi salah satu faktor yang membuat tagihan listrik membengkak.
Jika rice cooker yang ada di rumah kita dengan daya listrik 77 W dan dipakai memanaskan nasi selama 10 jam setiap harinya, maka pemakaian listrik bisa dihitung 77 W x 10 jam/hari x 30 hari/bulan= 23,1 kWh/bulan. Namun jika tidak menggunakan rice cooker bisa menghemat 23,1 kWh x Rp 1.500/kWh= Rp 34.650/bulan.
“Untuk menghemat listrik, saya sarankan memasak nasi ketika menjelang waktu makan, sehingga dapat habis setelah makan usai. Kalaupun perlu tetap menyimpan nasi, cukup pakai termos nasi,” kata Benny.
2. Dispenser Air, 350 W
Pemakaian dispenser secara terus-menerus juga akan membuat tagihan listrik bengkak. Benny menyarankan dispenser dinyalakan hanya jika memerlukan air panas saja. Paling perlu waktu 3-5 menit saja untuk mencapai panas air sekitar 90 derajat.
3.Lampu Penerangan
Jika siang hari, sebaiknya lampu dimatikan. Karena bisa jadi lampu menjadi salah satu yang membuat tagihan listrik menjadi besar.





