Di era ketika kolaborasi dengan lembaga keuangan dan mitra usaha semakin menuntut transparansi, dokumen yang rapi menjadi “bahasa” yang dapat dipahami banyak pihak.
Dalam konteks penguatan UMKM, Lamongan juga mendorong pelaku usaha sektor makanan untuk menata pengelolaan usaha secara lebih profesional. Puluhan pelaku UMKM di sektor makanan di Kecamatan Lamongan diketahui mendapatkan pendampingan intensif terkait penyusunan laporan keuangan dan analisis rasio.
Pendampingan ini bertujuan mengubah pembukuan sederhana menjadi laporan keuangan yang lebih rapi dan informatif, sehingga pelaku usaha memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan strategis. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Lamongan bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat, dengan model pelatihan yang menekankan praktik langsung agar materi lebih mudah diterapkan.
Para peserta yang berasal dari usaha olahan makanan khas seperti keripik, sirup, dan aneka makanan ringan diajak memahami cara mencatat transaksi harian, menyusun laporan laba rugi, membuat neraca sederhana, serta merapikan arus kas. Pola pembelajaran yang aplikatif dipilih karena banyak pelaku UMKM sebenarnya sudah menjalankan aktivitas usaha dengan konsisten, namun belum terdokumentasi secara baik. Akibatnya, mereka kerap kesulitan saat diminta menunjukkan performa usaha secara angka, terutama ketika ingin mengajukan pinjaman, memperluas kerja sama pemasaran, atau mencari mitra investasi.
Kepala Bidang UMKM Diskoperindag Lamongan, Drs. Ahmad Firdaus, M.Si., menekankan bahwa laporan keuangan yang baik merupakan kunci berkembangnya usaha.
“Banyak UMKM kita punya produk unggulan, tetapi sering terkendala ketika mengajukan pinjaman atau bermitra karena tidak memiliki laporan keuangan yang terdokumentasi. Melalui pelatihan ini, kami ingin membekali mereka dengan kemampuan untuk ‘berbicara’ dalam bahasa keuangan yang dipahami perbankan dan investor,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Ia menambahkan bahwa pelaku usaha perlu memiliki kemampuan dasar membaca kondisi usaha melalui rasio-rasio sederhana, sehingga dapat mengevaluasi biaya, menentukan harga yang wajar, serta menilai kemampuan usaha membayar kewajiban.
Hubungan antara sosialisasi pemadanan NIK menjadi NPWP dan pendampingan penyusunan laporan keuangan menjadi semakin jelas ketika dilihat dari kebutuhan UMKM untuk naik kelas. Administrasi perpajakan dan pembukuan ibarat dua sisi yang saling melengkapi. Ketika identitas pajak tertib dan data kependudukan sinkron, pelaku usaha akan lebih mudah mengurus berbagai keperluan formal. Sementara itu, ketika pembukuan dan laporan keuangan tersusun rapi, pelaku usaha memiliki bukti yang meyakinkan atas aktivitas bisnisnya. Kombinasi keduanya akan memperbesar peluang UMKM untuk mengakses pembiayaan, memperkuat kemitraan, serta mengikuti program-program pengembangan usaha yang mensyaratkan kelengkapan administrasi.
Pihak universitas menilai sosialisasi seperti ini juga sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat. Kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan praktis yang berdampak langsung pada kehidupan warga.
Dengan menghadirkan pemateri yang kompeten, kegiatan sosialisasi diharapkan membantu peserta memahami perubahan kebijakan dan sistem, sekaligus membangun sikap disiplin administrasi yang akan berpengaruh pada banyak aspek, termasuk dunia kerja dan kewirausahaan.
Di akhir kegiatan, peserta didorong untuk segera mengecek kesesuaian data kependudukan yang dimiliki dan tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi kendala teknis. Panitia juga menekankan pentingnya melanjutkan kebiasaan tertib dokumen, mulai dari menyimpan arsip identitas, menyusun catatan transaksi usaha, hingga menyiapkan laporan keuangan sederhana.
Harapannya, langkah-langkah kecil yang konsisten akan membentuk budaya administrasi yang kuat, sehingga pelaku usaha dan masyarakat umum di Lamongan dapat lebih siap menghadapi tuntutan layanan publik dan persaingan ekonomi yang semakin terbuka.





