Peserta tampak antusias saat diberikan contoh kasus nyata penyimpangan yang berhasil dicegah berkat penerapan SPI yang disiplin. Penjelasan ini membuka mata banyak pengelola bahwa pengendalian internal bukan sekadar teori, tetapi kebutuhan dasar untuk melindungi aset lembaga dan memastikan akuntabilitas kepada masyarakat desa sebagai pemilik sah dari BUMDes dan Koperasi.
Memasuki sesi kedua, giliran Dr. Titin, S.E., M.M., yang memberikan pemaparan mendalam mengenai Manajemen Risiko Keuangan bagi Koperasi dan BUMDes. Dengan gaya penyampaian yang lugas dan komunikatif, Dr. Titin menjelaskan bahwa risiko keuangan dapat muncul dari berbagai sumber, seperti fluktuasi pendapatan, kredit macet, ketidakseimbangan arus kas, rendahnya literasi keuangan, hingga risiko eksternal seperti perubahan kebijakan pemerintah atau kondisi ekonomi makro. Ia menekankan bahwa risiko tidak harus ditakuti, tetapi harus dipetakan, diukur, dan dikelola.
Dalam presentasinya, Dr. Titin memperkenalkan kerangka kerja manajemen risiko mulai dari identifikasi risiko, analisis risiko, penilaian tingkat dampak, hingga strategi respons risiko yang dapat diterapkan lembaga ekonomi desa.
Ia juga memberikan panduan praktis, seperti bagaimana membuat peta risiko sederhana, menyusun daftar prioritas risiko, serta memperbaiki arus kas dengan prinsip kehati-hatian (prudential). Peserta juga diajak mempelajari pola-pola risiko yang sering terjadi di sektor ekonomi desa, termasuk risiko operasional yang muncul akibat SDM terbatas dan risiko kredit yang berasal dari tidak disiplin dalam penyaluran pinjaman.
Lebih jauh, Dr. Titin menegaskan bahwa tantangan utama lembaga ekonomi desa bukan semata-mata pada besarnya risiko, tetapi pada rendahnya kapasitas manajerial untuk mengidentifikasi dan merespons risiko tersebut.
Ia mendorong setiap pengurus untuk mulai menerapkan sistem dokumentasi, menyusun SOP, serta memperkuat budaya kepatuhan agar BUMDes dan Koperasi dapat tumbuh berkelanjutan. Disampaikan pula pentingnya digitalisasi pencatatan keuangan sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan akurasi dan transparansi laporan.
Antusiasme peserta tidak hanya tampak dalam sesi materi, tetapi juga dalam diskusi terbuka. Banyak pengurus BUMDes dan Koperasi bertanya mengenai cara praktis menerapkan SPI di tengah keterbatasan sumber daya manusia. Ada pula yang menanyakan bagaimana meminimalkan risiko kredit macet tanpa mengurangi keberpihakan kepada masyarakat kecil. Dr. Titin menanggapi bahwa manajemen risiko bukan berarti membatasi layanan, tetapi menata proses agar tetap aman dan terukur.
Kegiatan sosialisasi ini ditutup dengan penegasan bahwa penguatan manajemen risiko dan SPI adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekonomi desa. Dengan sistem yang baik, BUMDes dan Koperasi tidak hanya mampu bertahan menghadapi ketidakpastian, tetapi juga berkembang menjadi lembaga yang dipercaya masyarakat, profesional, dan berdaya saing tinggi.
Melalui kegiatan ini, Lamongan kembali menunjukkan komitmen serius dalam memperkuat fondasi ekonomi desa. Sosialisasi ini diharapkan menjadi titik awal perubahan paradigma bahwa keberhasilan lembaga ekonomi desa tidak cukup hanya dengan semangat gotong royong, tetapi juga membutuhkan tata kelola modern yang efektif, terukur, dan berorientasi pada manajemen risiko. Dengan demikian, Koperasi dan BUMDes di Lamongan dapat terus menjadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah dinamika zaman.





