“Ini bukan hanya tentang regulasi, tapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Dengan sistem yang inklusif, kita tidak hanya menyalurkan gas, tapi juga menggerakkan ekonomi rakyat,” tuturnya.
Lia juga mendorong Pertamina dan pemerintah daerah untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas melalui pelatihan, pembinaan, dan edukasi bagi calon mitra masyarakat. Dengan begitu, sistem distribusi elpiji bersubsidi dapat dijalankan secara profesional dan tetap berpihak kepada rakyat kecil.
“Ketika masyarakat dilibatkan, mereka memiliki tanggung jawab moral menjaga sistem ini tetap sehat. Ini bukan semata bisnis energi, melainkan soal keadilan sosial,” tegasnya.
Lia berharap langkah strategis ini mendapat dukungan lintas sektor agar kebijakan distribusi elpiji 3 kilogram tepat sasaran dan tidak ada warga miskin yang kesulitan mendapatkan akses energi.
“Distribusi elpiji yang adil bukan hanya soal pasokan, tapi juga tentang rasa keadilan bagi rakyat kecil. Saat masyarakat ikut berperan, keadilan itu menjadi milik bersama,” pungkas Lia Istifhama.(Bs).





