“Sekitar 175.000 pengungsi Sahrawi selama hampir 50 tahun hingga saat ini tinggal di kamp-kamp pengungsian di gurun pasir Aljazair dan bergantung penuh pada bantuan kemanusiaan untuk bisa bertahan hidup. Mereka terpisah dari keluarga mereka di Sahara Barat yang dibatasi oleh tembok terpanjang di dunia, sepanjang 2.700 kilometer dan dipenuhi dengan sekitar 7 juta hingga 10 juta ranjau darat,” ungkapnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Benjamin Ladraa ini mengatakan, rezim penjajah Maroko tidak mengizinkan jurnalis asing atau organisasi HAM untuk memasuki wilayah yang diduduki. Hal ini membuat Sahara Barat menjadi salah satu wilayah yang paling sedikit diliput di dunia.

Itulah mengapa Sanna dan Benjamin memutuskan untuk melakukan tur sepeda keliling dunia. Mereka akan menghabiskan waktu lebih dari dua tahun bersepeda sejauh 48.000 kilometer melewati 40 negara, memberikan informasi dan berbicara di depan media, politisi, dan kelompok-kelompok HAM di setiap negara. Di Indonesia, mereka akan bersepeda dari Bali ke kota-kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sementara itu dalam waktu yang sama, Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim mengatakan terimakasih atas kunjungan dan waktunya. Dirinya pun mengatakan akan menyampaikan permasalahan ini kepada Pemerintah Republik Indonesia dan juga delegasi PBB di Indonesia.

“Sesuai dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” pungkasnya. (*)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2