BERITASIBER.COM – Potret kemiskinan masih nyata dirasakan sebagian masyarakat di pelosok daerah. Salah satunya dialami Saminah (51), warga Kampung Cikulur, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten, yang selama lima tahun terakhir bertahan hidup di sebuah gubuk reyot berukuran sekitar 2×2 meter.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Gubuk sederhana yang ditempatinya berdiri di kolong kandang kambing milik warga. Di tempat sempit dan jauh dari kata layak itu, Saminah merawat suaminya, Kapi (60), yang menderita stroke dan lumpuh selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Kondisi bangunan yang ditempati pasangan lansia tersebut sangat memprihatinkan. Dinding bilik tampak lapuk, lantai masih berupa tanah, dan atap seadanya membuat gubuk itu rawan roboh saat hujan deras maupun angin kencang menerpa.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Sudah lima tahun tinggal di sini. Rumah yang dulu roboh karena sudah tua, tapi saya tidak punya uang untuk memperbaikinya,” ujar Saminah dengan mata berkaca-kaca saat ditemui, Minggu (19/4/2026).

Di tengah keterbatasan ekonomi, Saminah tetap berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bekerja sebagai buruh tani serabutan dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari. Penghasilan tersebut harus dibagi untuk kebutuhan makan, pengobatan suami, hingga biaya anak-anaknya.

“Penghasilannya tidak menentu, kadang ada kerjaan kadang tidak. Ya dicukup-cukupin saja,” katanya lirih.

Beban hidup Saminah semakin berat karena ia masih harus membiayai tiga anaknya. Dua di antaranya sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren, sementara satu anak lainnya merantau bekerja di Jakarta demi membantu keluarga.

Selain menjadi buruh tani, Saminah juga menjaga kambing milik tetangga untuk mendapatkan tambahan penghasilan meski nilainya tidak seberapa.

Di sisi lain, bantuan sosial pemerintah yang sebelumnya sempat diterima kini sudah tidak lagi didapatkan. Menurut Saminah, kartu bantuan sosial miliknya disebut diblokir tanpa penjelasan yang jelas.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2