Gus Yahya mengajak seluruh umat Islam serta komunitas internasional untuk memberikan dukungan moral dan doa bagi bangsa Iran agar tetap tegar menghadapi masa-masa sulit ini.
Meski demikian, Gus Yahya tetap memberikan catatan kritis terhadap eskalasi yang terjadi. Ia menyesalkan tindakan Iran sebelumnya yang dianggap melakukan serangan ke berbagai negara tanpa alasan yang kuat. Menurutnya, serangan balasan atau provokasi dari pihak manapun hanya akan memperkeruh suasana dan menutup pintu resolusi damai.
“Kita semua paham itu bentuk kemarahan dan menyasar titik-titik yang diduga menjadi tempat tentara Amerika, namun apa pun itu, serangan tersebut justru akan memperburuk situasi,” tambahnya.
Menyikapi krisis yang kian meruncing, PBNU menyerukan agar masyarakat internasional kembali memperkuat posisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Gus Yahya mendesak agar PBB tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar menjalankan fungsinya sebagai penjaga tatanan internasional secara struktural dan efektif.
Secara khusus, Gus Yahya mendorong Pemerintah Indonesia untuk bergerak cepat sesuai amanat konstitusi dalam menjaga perdamaian dunia. Ia berharap Indonesia dapat memanfaatkan pengaruh diplomatiknya, termasuk posisinya di Balance of Power (BoP) atau forum internasional lainnya, untuk menekan AS, Israel, dan aktor terkait agar segera menghentikan kekerasan.
“Kami mendorong Pemerintah Indonesia mengambil peran aktif dalam mengupayakan deeskalasi konflik menuju resolusi damai yang beradab dan bermartabat. Ini adalah amanat konstitusi kita,” tegasnya menutup pernyataan.






