Endrik memperkirakan pandangan dari helikopter saat penerbangan hanya sekitar 300 hingga 400 meter.
“Sepanjang perjalanan memang kita di ketinggian 3.500 feet tidak bisa melihat ke depan ataupun ke bawah karena memang asap sangat tebal. Jadi kita hanya mampu melihat kurang lebih 300 sampai 400 meter ke depan karena memang asap sangat tebal,” ujarnya.
Terbatasnya visibilitas tersebut juga membuat aktivitas penerbangan di Palangkaraya tidak dapat berjalan seperti kondisi normal.
Di tengah situasi itu, keberadaan approach light atau lampu pemandu menuju landasan menjadi salah satu faktor yang membantu proses pendaratan.
Menurut Endrik, lampu tersebut mulai terlihat dari jarak sekitar 0,6 mil dan menjadi panduan bagi pilot untuk mengarahkan helikopter menuju lokasi pendaratan.
“Posisinya di final kurang lebih 0,4–0,3 mil sebelumnya tidak kelihatan. Namun di 0,6 mil kami sudah bisa melihat approach light (lampunya), sehingga menjadi pemandu kita untuk mendarat,” katanya.
Kendati harus menembus kabut asap dengan jarak pandang terbatas, dua sortie penerbangan untuk membawa tujuh jenazah korban KM Virgo Transport 8 akhirnya dapat diselesaikan dengan aman. (*jm)





