Haedar menekankan bahwa perbedaan dalam penetapan Idul Fitri tidak seharusnya menjadi sumber perdebatan atau perpecahan. Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana umat Islam dapat mengimplementasikan nilai-nilai Idul Fitri dalam kehidupan sehari-hari.
“Substansi Idul Fitri bukan sekadar tanggal, tetapi bagaimana kita menghadirkan nilai-nilai pencerahan, seperti saling memaafkan, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kualitas diri,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengimbau agar fasilitas publik tetap dapat digunakan secara bersama, baik oleh warga Muhammadiyah maupun umat Islam lainnya yang mungkin merayakan Idul Fitri pada hari berbeda. Hal ini penting untuk menjaga suasana kondusif di tengah masyarakat yang majemuk.
Secara khusus, Haedar Nashir juga memberikan perhatian kepada warga Muhammadiyah di Bali. Mengingat perayaan Idul Fitri tahun ini berdekatan dengan Hari Raya Nyepi umat Hindu, ia mengimbau agar tidak menggelar takbir keliling atau menggunakan pengeras suara secara berlebihan.
Sebagai gantinya, takbir diharapkan dapat dilakukan di rumah masing-masing sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian.
Imbauan tersebut menjadi cerminan komitmen Muhammadiyah dalam menjaga toleransi antarumat beragama di Indonesia. Dengan mengedepankan sikap saling menghormati, diharapkan perayaan hari besar keagamaan dapat berlangsung dengan damai dan penuh kebersamaan di tengah perbedaan.






