“Lanjut dari itu harus terlebih dahulu dilakukan pendalaman proses mulai awal hingga akhir sehingga baru bisa kita ketahui letak sehingga terjadi hal tersebut di mana,” ujarnya.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa penggantian makanan menjadi langkah penanganan awal, sementara penyebab ompreng tanpa menu ayam masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sorotan tidak berhenti pada kelengkapan menu. Pihak sekolah juga mengeluhkan waktu kedatangan makanan MBG dari SPPG Taccorong yang disebut berlangsung sekitar pukul 11.30 WITA selama empat hari terakhir.

Waktu kedatangan tersebut dinilai perlu menjadi perhatian karena bertepatan dengan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Sekolah berharap distribusi dapat disesuaikan dengan jadwal penerimaan dan pembagian makanan kepada siswa agar pelaksanaannya berjalan tertib tanpa mengganggu kegiatan pembelajaran.

Menanggapi keluhan tersebut, Wahyu menjelaskan bahwa penilaian mengenai keterlambatan konsumsi perlu memperhatikan batas waktu yang tercantum pada label makanan.

“Untuk keterlambatan yang dimaksud, yang harus kita ketahui adalah batas makan yang sudah ada pada label. Sehingga kalau belum melewati batas konsumsi, berarti belum masuk dalam kategori itu,” jelasnya.

Wahyu juga menyebut persoalan waktu pengantaran perlu dikomunikasikan secara teknis antara pihak SPPG dan penerima manfaat.

Namun, keluhan mengenai waktu kedatangan makanan selama empat hari berturut-turut masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut, terutama mengenai jadwal distribusi yang ditetapkan, penyebab waktu pengantaran tersebut, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan sekolah.

Hingga berita ini ditulis, Kepala SPPG Taccorong belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang dikirim melalui pesan WhatsApp pada Selasa (20/10/2026).(Arie)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2