= 116 s.d 137, artinya skor sedang mulai dari 116 s.d 137.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

3). Kategori rendah = X < Mean – 1 SD

= X < Mean – 1 SD = X < 126,39 – (1 x 11,7)

Scroll Untuk Lanjut Membaca

= X <    114,67 atau 115, artinya skor rendah mulai 115 sampai kebawah Skor rendah.

Jadi,   hasil   dari   penganalisisan   pengkategorian   skala    motivasi   belajar    dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Kategori tinggi : 138 sampai keatas

b. Kategori sedang : 116 sampai dengan 137

c. Kategori rendah : 115 sampai kebawah

Berikut disajikan data angket pre – test Motivasi belajar siswa Kelas VIII-D SMP Negeri 4 Lamongan :

Tabel 4.1 Hasil pengukuran awal Angket Motivasi belajar

 

No

Nama Subyek  

Skor

 

No

Nama Subyek

 

Skor

1

AB 104 16 MR 138

2

AJ

132

17 MF

121

3 AR 103 18 MJ

132

4

AF 132 19 MFJ 121

5

AUR 131 20 MH

102

6 DF 109 21 MT

132

7

ED 136 22 NF

109

8

FF 145 23 QE

140

9

FA 117 24 SAT

146

10

FFA 129 25 SD 123

11

LA 130 26 SF

115

12 MD 116 27 SN

121

13

MRF 132 28 SC

144

Ket : Semakin rendah skor hasil Pre – Test maka semakin rendah pula tingkat motivasi belajar siswa, dan semakin tinggi skor hasil Pre – Test maka semakin tinggi pula tingkat motivasi belajar siswa.

Berdasarkan tabel di atas diketahui ada 7 siswa yang mempunyai tingkat motivasi belajar rendah, 18 siswa memiliki tingkat motivasi belajar sedang, dan 7 siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar tinggi. Tujuh orang siswa tersebut adalah AB sebagai konseli I, AR sebagai konseli II, DF sebagai konseli III, MH sebagai konseli IV, NF sebagai konseli V, SF sebagai konseli VI, dan ZE sebagai konseli VII. Ketujuhnya adalah siswa SMP Negeri 4 Lamongan tahun ajaran 2023/2024 yang berasal dari kelas VIII-D. Adapun hasil dari analisis angket motivasi belajar dapat dilihat di lampiran.

Setelah mengetahui hasil tes dan diketahui kategori dari masing-masing subyek maka peneliti melakukan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga seperti yang telah direncanakan.

B. Pelaksana Siklus I

1. Rencana Tindakan I

Ada dua siklus dalam penelitian yang peneliti laksanakan, yakni siklus I dan siklus II. Dalam setiap siklus penelitian ini penulis melaksanakan beberapa tahap penelitian, diantaranya penyusunan perencanaan, tindakan, observasi, refleksi. Peneliti mempersiapkan siklus I dengan beberapa kegiatan dalam pembelajaran dan instrumen penelitian. Kegiatan yang dilakukan dengan media permainan ular tangga. Pada tahap perencanaan, peneliti menyiapkan alat dan bahan permainan.

2. Pelaksanaan Siklus I Penelitian Tindakan

Mengingat siswa yang memiliki motivasi belajar rendah adalah para siswa SMP Negeri 4 Lamongan, penulis mencoba mengerti memahami alasan, faktor dan latar belakang yang menyebabkan siswa mengalami motivasi belajar yang rendah. Namun demikian, masalah motivasi belajar yang rendah tidak dapat didiamkan begitu saja, jika hal ini didiamkan akan berdampak pada hasil dan prestasi belajarnya. Sebuah solusi harus dicari, dan penulis mengupayakan sebuah solusi yakni memberikan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga bagi para siswa guna meningkatkan motivasi belajarnya. Disamping memberikan bantuan berupa pelayanan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga, penulis juga berupaya apakah pemberian bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa tersebut.

Pemberian perlakuan dilakukan diruang Lab. Komputer. Karena ruang Lab. Komputer dapat digunakan sewaktu-waktu, selain itu siswa juga merasa lebih nyaman jika kegiatan dilakukan di ruang Lab. Komputer karena tidak terlihat oleh banyak orang. Adapun uraian dalam pemberian perlakuan adalah sebagai berikut:

A. Pertemuan Pertama

Hari/ Tanggal              :    Selasa, 8 Agustus 2023

Pokok Bahasan           :    Pembentukan Hubungan

Tempat                        :    Ruang Lab. Komputer

Waktu                         :    13:10 – 13:50

Kegiatan                     :    Bimbingan Kelompok

Pada pertemuan pertama, peneliti melakukan layanan bimbingan kelompok sesuai dengan rencana pelaksanaan layanan (RPL). Adapun tahap-tahap bimbingan kelompok yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pembentukan

Pemimpin kelompok membuka kegiatan bimbingan kelompok dengan mengucapkan salam dan terima kasih kepada seluruh siswa atas waktu dan kesediaannya berkumpul untuk mengikuti kegiatan ini. Setelah itu mengajak anggota kelompok untuk sama-sama berdoa. Kemudian pemimpin kelompok menjelaskan pengertian bimbingan kelompok, tujuan, asas dan cara pelaksanaan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Pada tahap ini semua anggota kelompok sudah memahami apa yang dimaksud dengan bimbingan kelompok, tujuan dilakukan serta asas-asas yang harus dipatuhi oleg setiap anggota kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk saling memperkenalkan diri dengan menggunakan rangkaian nama serta menyebutkan hobi yang dimulai dari pemimpin kelompok dahulu.

2. Tahap Peralihan

Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, setelah itu pemimpin kelompok menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya.

3. Tahap Kegiatan

Pada tahap kegiatan ini pemimpin kelompok menjelaskan bagaimana langkah-langkah permainan yang akan dimainkan. Pemimpin kelompok menjelaskan bahwa bimbingan kelompok ini adalah dengan berdasarkan hasil skala motivasi yang menunjukkan motivasi belajar yang rendah. Namun pemimpin kelompok juga menjelaskan bahwasannya bimbingan kelompok kali ini berbeda dengan bimbingan kelompok biasanya. Bimbingan kelompok kali ini menggunakan media permainan ular tangga, jadi dapat sambil bermain. Kemudian pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk mengeluarkan pendapatnya mengenai topik yang dibahas dan permainan yang akan dimainkan.

4. Tahap Pengakhiran

Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan ini akan segera berakhir. Kemudian meminta anggota kelompok untuk membuat komitmen serta kesan dan pesan atas kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilaksanakan. Setelah itu berdoa untuk menutup layanan bimbingan kelompok dan bernyanyi “sayonara” serta saling bersalam-salaman

Tujuan :

Tujuan dari pembinaan hubungan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada konseli mengenai pentingnya mengenal diri sendiri dan orang lain, serta dasar-dasar persahabatan dalam menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan orang lain. Selain itu hubungan antara anggota kelompok dan peneliti menjadi lebih dekat dan akrab, sehingga akan memperlancar proses pemberian layanan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga selanjutnya.

Tujuan dari evaluasi dan klarifikasi adalah agar subyek penelitian yang diambil tepat sasaran, yaitu siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah.

Peneliti memberikan penjelasan singkat tentang meningkatkan motivasi belajar kepada peserta kelompok, agar peserta kelompok memahami apa yang dimaksud dengan motivasi belajar.

Hasil pertemuan     :

Sebelum dilaksanakan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga pada pertemuan pertama ini, hubungan antara peneliti sudah saling kenal. Karena peneliti adalah guru pembimbing yang setiap minggunya selalu masuk ke kelas dan memberikan layanan klasikal. Namun demikian, antara peserta kelompok dan peneliti belum saling mengenal lebih jauh, sehingga perlu adanya pengenalan lebih dalam lagi. Tujuannya agar membuat siswa lebih nyaman saat mengikuti kegiatan konseling kelompok. Konseli juga belum tahu maksud dari pertemuan yang dilakukan

Setelah dilaksanakan kegiatan bimbingan kelompok pertemuan pertama, konselor dan konseli saling berkenalan dan saling mengenal satu sama lain. Hubungan antara konselor dan konseli juga terjalin dengan baik. Selain itu konseli juga mengutarakan bahwa data yang didapat dari angket, wali kelas dan guru mata pelajaran itu benar adanya sesuai dengan keadaannya, sehingga tidak ada pergantian konseli. Pada tahap ini, secara keseluruhan kegiatan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga berjalan dengan baik.

B. Pertemuan Kedua

Hari/ Tanggal              :    Selasa, 15 Agustus 2023

Pokok Bahasan           :    Fungsi hubungan dan membangun dukungan pribadi

Tempat                        :    Ruang Lab. Komputer

Waktu                         :    12.00 – 12.40

Kegiatan                     :    Bimbingan kelompok

Pada pertemuan kedua ini, peneliti melakukan layanan bimbingan kelompok sesuai dengan rencana pelaksanaan layanan (RPL). Adapun tahap-tahap bimbingan kelompok yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pembentukan

Pemimpin kelompok membuka kegiatan bimbingan kelompok dengan mengucapkan salam dan terimakasih kepada seluruh siswa atas waktu dan kesediaannya berkumpul untuk mengikuti kegiatan ini. Setelah itu mengajak anggota kelompok untuk sama-sama berdoa. Kemudian pemimpin kelompok menjelaskan pengertian bimbingan kelompok, tujuan, azas dan cara pelaksanaan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Pada tahap ini semua anggota kelompok sudah memahami apa yang dimaksud dengan bimbingan kelompok, tujuan dilakukannya serta asas-asas yang harus dipatuhi oleh setiap anggota kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk saling memperkenalkan diri dengan menggunakan rangkaian nama serta menyebutkan hobby yang di mulai dari pemimpin kelompok dahulu.

2. Tahap Peralihan

Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, setelah itu pemimpin kelompok menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya.

3. Tahap Kegiatan

Pada tahap kegiatan ini pemimpin kelompok menjelaskan bagaimana langkah-langkah permainan yang akan dimainkan. Pemimpin kelompok menjelaskan bahwa bimbingan kelompok ini adalah topik bebas karena topik belum ditentukan oleh pemimpin kelompok. Namun pemimpin kelompok juga menjelaskan bahwasannya bimbingan kelompok kali ini berbeda dengan bimbingan kelompok biasanya. Bimbingan kelompok kali ini menggunakan media permainan ular tangga, jadi dapat sambil bermain. Kemudian pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk mengeluarkan pendapatnya mengenai topik yang dibahas dan permainan yang akan dimainkan.

4. Tahap Pengakhiran

Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan ini akan segera berakhir. Kemudian pemimpin kelompok meminta anggota kelompok untuk membuat komitmen serta kesan dan pesan atas kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilaksanakan. Setelah itu berdoa untuk menutup layanan bimbingan kelompok dan bernyanyi “sayonara” serta saling bersalam-salaman.

Tujuan :

Rasionalisasi bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga bertujuan supaya konseli memahami maksud dan tujuan dari pelaksanaan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga.

Hasil pertemuan :

Sebelum dilaksanakan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga, Anggota kelompok belum menyadari kalau perilaku yang selama ini mereka miliki adalah perilaku yang kurang bertanggung jawab dan dapat menghambat proses belajar mereka, serta merugikan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Setelah melakukan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga, Anggota kelompok menyadari bahwa rendahnya Motivasi Belajar yang mereka miliki berdampak buruk pada perilaku belajar mereka dan itu sangat merugikan diri mereka sendiri dan orang lain.

Data yang diambil dan dianalisis pada siklus I ini menggunakan data tes dan observasi.

  1. Hasil tes

Hasil tes ini digunakan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa dibandingkan antara hasil tes sebelum peneliti mengadakan penelitian yang diperoleh dari hasil angket dan didapat hasil sebagai berikut :

Tabel 4.2

Hasil Tes Siklus I

 

No

Nama Subyek  

Pre test

 

Kategori

 

Hasil Test

 

Kategori

1

AB 104 Rendah 120 Sedang

2

DF 109 Rendah 123

Sedang

3

AR 103 Rendah 117

Sedang

4

MH 102 Rendah 114

Redah

5

ZE 113 Rendah 124

Sedang

6

SF 115 rendah 128

Sedang

7

NF 109 rendah 130

Sedang

Dari tabel 4.2 Dapat dihitung rata-rata nilai perkembangan motivasi belajar siswa dengan layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga pada siklus I masih belum mencapai hasil yang ditargetkan. Terjadi peningkatan skor motivasi belajar siswa setelah diberikan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga, namun masih belum mencapai skor yang ditargetkan.

2. Observasi

Observasi dilakukan oleh kolaborator/teman sejawat dengan cara mengamati peneliti dan perkembangan siswa dalam proses bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Kolaborator/teman sejawat mengisi lembar observasi yang disediakan peneliti sebagai berikut :

a. Pengamatan kolaborator/teman sejawat pada siswa Siklus I

Tabel 4.3 lembar hasil pengamatan terhadap siswa oleh kolaborator/team sejawat siklus 1

No Aspek yang diamati Kriteria Jumlah
1 2 3 4
1. Aktif dalam kegiatan layanan
2. Bertanya kepada teman   mengenai

kegiatan yang dilakukan

3. Bertanya    kepada    guru    mengenai

kegiatan yang diikuti

4. Menjawab pertanyaan teman
5. Menjawab pertanyaan guru
6. Mengemukakan pendapat
7 Menghargai pendapat teman
8 Membangun     sendiri     pengetahuan

yang dimiliki

Skor Total 0 8 12 0
Rata-rata 62,5%

Keterangan :

4     :    Sangat Baik (SB)

3     :    Baik (B)

2     :    Cukup (C)

1     :    Kurang (K)

Dengan menggunakan lembar pengamatan diatas dan didapat perhitungan persentase aktivitas siswa pada saat diberikan layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga oleh peneliti adalah sebagai berikut :

Rata-rata persentase aktivitas siswa :

Berdasarkan tabel 4.3 menurut kolaborator atau teman sejawat (pengamat) bahwa aktivitas siswa pada saat diberikan layanan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga mencapai 62,5% pada siklus I.

b. Lembar pengamatan untuk peneliti :

Tabel 4.4 Persentase pengamatan kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga oleh peneliti siklus I

No Aspek yang diamati Kriteria Jumlah
1 2 3 4
1. Menyampaikan tujuan pemberian

layanan bimbingan kelompok

2. Ketepatan perumusan tujuan

pelayanan

3. Relevansi media permainan ular

tangga dengan bimbingan kelompok

 

4.

Pembukaan (kejelasan dan keterarahan aktivitas guru BK

dengan tujuan tahap pembukaan)

 

5.

Transisi (kejelasan dan keterarahan aktivitas guru BK dengan tujuan tahap transisi)
 

 

6.

Inti (kejelasan dan keterarahan intervensi yang akan digunakan oleh guru BK untuk mengubah perilaku

konseli dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan)

 

7.

Penutupan (kejelasan keterarahan

kegiatan guru BK dengan tujuan tahap penutupan, meliputi:

 

merangkum, refleksi, memberikan

penguatan, dan tindak lanjut)

Skor Total 4 15
Rata-rata 67,8%

Rata-rata persentase proses kegiatan layanan konseling kelompok diperoleh dari perhitungan sebagai berikut :

Rata-rata persentase layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga :

Dari tabel 4.4 persentase diatas dapat disimpulkan bahwa peneliti dalam proses layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga yang dilakukan oleh peneliti dinilai masih kurang menguasai dan masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok sehingga mempengaruhi proses layanan bimbingan kelompok.

3. Refleksi

Selama memberikan bimbingan kelompok ini penulis menemukan bahwa kegiatan semacam ini memang sangat diperlukan guna membantu siswa memiliki permasalahan, dalam hal ini masalah mengenai motivasi belajar yang rendah. Namun dalam penelitian tindakan ini.

Dari apa yang penulis dapatkan selama pelaksanaan siklus I dalam penelitian ini, penulis merasa bahwa layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga masih harus dilanjutkan kembali, mengingat ada dua permasalahan yang belum diselesaikan secara sempurna. Adapun permasalahan yang ada yakni, motivasi belajar siswa yang masih perlu ditingkatkan karena anggota kelompok akan segera mengikuti ujian semester pertama. Kedua, anggota kelompok masih memiliki permasalahan pribadi terkait motivasi belajar, misalnya permasalahan yang belum diungkapkan sehingga permasalahan siswa belum terselesaikan. Dari titik inilah, penulis merasa sangat yakin untuk segera melanjutkan penelitian dan melaksanakan satu siklus lagi. Siklus yang penulis laksanakan, penulis sebut sebagai siklus pemantapan.

C. Pelaksanaan Siklus II

Siklus II ini dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2023 sampai 14 November 2023. Pada pertemuan pertama dan jam mata pelajaran lain yang diperkenankan untuk siswa diberikan bimbingan. Setelah dilakukan oleh peneliti, maka diputuskan bahwa perlu diadakan siklus II dengan tahapan sebagai berikut :

1. Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I diputuskan bahwa diadakan siklus II. Perencanaan pada siklus II ini masih seperti siklus I yaitu menyiapkan rencana pelaksanaan konseling kelompok, lembar observasi dan analisis data. Perbaikan- perbaikan kekurangan pada siklus I dilakukan dengan meningkatkan kesiapan peneliti dalam mengolah dan memotivasi anggota kelompok agar lebih aktif dalam kegiatan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga.

2. Pelaksanaan atau tindakan

Dalam pelaksanaan ini, peneliti melaksanakan sesuai dengan hasil evaluasi siklus

Pengambilan data dalam siklus I ini peneliti menggunakan hasil tes dan

A. Pertemuan Pertama

Hari/tanggal                :    9 Oktober 2023

Tempat                        :    Lab. Komputer

Waktu                         :    06:30 – 07:10

Kegiatan                     :    Bimbingan kelompok

Pada pertemuan pertama siklus II, peneliti melaksanakan layanan bimbingan kelompok sesuai dengan rencana pelaksanaan layanan (RPL) dan pedoman observasi. Pada tahap ini kegiatan yang dilaksanakan peneliti adalah tidak jauh berbeda dengan siklus I, hal ini berdasarkan dengan hasil observasi yang dilakukan, dimana peningkatan keterbukaan siswa belum sepenuhnya meningkat, karena masih banyak yang dikategorikan sedang. Maka dipertemuan di siklus II ini akan lebih ditingkatkan lagi.

  1. Tahap Pembentukan

Pemimpin kelompok membuka kegiatan bimbingan kelompok dengan mengucapkan salam dan terimakasih kepada seluruh siswa atas waktu dan kesediaannya berkumpul untuk mengikuti kegiatan ini. Setelah itu mengajak anggota kelompok untuk sama-sama berdoa. Kemudian pemimpin kelompok menjelaskan pengertian bimbingan kelompok, tujuan, azas dan cara pelaksanaan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Pada tahap ini semua anggota kelompok sudah memahami apa yang dimaksud dengan bimbingan kelompok, tujuan dilakukannya serta asas-asas yang harus dipatuhi oleh setiap anggota kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk saling memperkenalkan diri dengan menggunakan rangkaian nama serta menyebutkan hobby yang di mulai dari pemimpin kelompok dahulu.

  1. Tahap Peralihan

Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, setelah itu pemimpin kelompok menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya.

  1. Tahap Kegiatan

Pada tahap kegiatan ini pemimpin kelompok menjelaskan bagaimana langkah-langkah permainan yang akan dimainkan. Pemimpin kelompok menjelaskan bahwa bimbingan kelompok ini adalah topik bebas karena topik belum ditentukan oleh pemimpin kelompok. Namun pemimpin kelompok juga menjelaskan bahwasannya bimbingan kelompok kali ini berbeda dengan bimbingan kelompok biasanya. Bimbingan kelompok kali ini menggunakan media permainan ular tangga, jadi dapat sambil bermain. Kemudian pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk mengeluarkan pendapatnya mengenai topik yang dibahas dan permainan yang akan dimainkan.

  1. Tahap Pengakhiran

Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan ini akan segera berakhir. Kemudian pemimpin kelompok meminta anggota kelompok untuk membuat komitmen serta kesan dan pesan atas kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilaksanakan. Setelah itu berdoa untuk menutup layanan bimbingan kelompok dan bernyanyi “sayonara” serta saling bersalam-salaman

Tujuan :

Pemeliharaan pekerjaan diri sendiri bertujuan agar anggota kelompok mampu memiliki rasa kemauan untuk lebih meningkatkan motivasi belajarnya. Penguatan yang diberikan kepada siswa bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa untuk menyadari terhadap betapa pentingnya motivasi belajar dalam proses belajar mengajar, baik disekolah maupun saat konseling berada diluar sekolah. Dan tugas rumah bertujuan untuk mengetahui perilaku baru yang dilakukan konseli setelah melakukan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga.

Hasil pertemuan :

Sebelum pelaksanaan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga pertemuan kelima, konseli belum sepenuhnya yakin bahwa mereka mampu untuk lebih memotivasi dirinya sendiri, setelah melakukan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga pertemuan pertama siklus II, mereka sedikit demi sedikit mulai yakin mampu untuk lebih memotivasi dirinya dalam hal belajarnya. Siswa dapat membingkai perilaku-perilaku negatif dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi. Dan dengan adanya penguatan dari pemimpin kelompok, siswa juga semakin termotivasi untuk berperilaku lebih percaya diri. Secara keseluruhan, kegiatan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga pada pertemuan kelima berjalan dengan baik.

B. Pertemuan kedua

Hari/tanggal                :    17 Oktober 2023

Tempat                        :    Lab. Komputer

Waktu                         : 14.00 – 14.40

Kegiatan                     : Bimbingan kelompok

Pada pertemuan kedua ini peneliti melaksanakan layanan bimbingan kelompok sesuai dengan rencana pelaksanaan layanan (RPL). Berikut dijelaskan tahap-tahap pelaksanaan layanan bimbingan kelompok:

  1. Tahap Pembentukan

Pemimpin kelompok membuka kegiatan bimbingan kelompok dengan mengucapkan salam dan terimakasih kepada seluruh siswa atas waktu dan kesediaannya berkumpul untuk mengikuti kegiatan ini. Setelah itu mengajak anggota kelompok untuk sama-sama berdoa. Kemudian pemimpin kelompok menjelaskan pengertian bimbingan kelompok, tujuan, azas dan cara pelaksanaan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Pada tahap ini semua anggota kelompok sudah memahami apa yang dimaksud dengan bimbingan kelompok, tujuan dilakukannya serta asas-asas yang harus dipatuhi oleh setiap anggota kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk saling memperkenalkan diri dengan menggunakan rangkaian nama serta menyebutkan hobby yang di mulai dari pemimpin kelompok dahulu.

  1. Tahap Peralihan

Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, setelah itu pemimpin kelompok menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya.

  1. Tahap Kegiatan

Pada tahap kegiatan ini pemimpin kelompok menjelaskan bagaimana langkah-langkah permainan yang akan dimainkan. Pemimpin kelompok menjelaskan bahwa bimbingan kelompok ini adalah topik bebas karena topik belum ditentukan oleh pemimpin kelompok. Namun pemimpin kelompok juga menjelaskan bahwasannya bimbingan kelompok kali ini berbeda dengan bimbingan kelompok biasanya. Bimbingan kelompok kali ini menggunakan media permainan ular tangga, jadi dapat sambil bermain. Kemudian pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk mengeluarkan pendapatnya mengenai topik yang dibahas dan permainan yang akan dimainkan.

  1. Tahap Pengakhiran

Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan ini akan segera berakhir. Kemudian pemimpin kelompok meminta anggota kelompok untuk membuat komitmen serta kesan dan pesan atas kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilaksanakan. Setelah itu berdoa untuk menutup layanan bimbingan kelompok dan bernyanyi “sayonara” serta saling bersalam-salaman

Tujuan :

Evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan perlakuan yang diberikan peneliti kepada peserta layanan. Penguatan bertujuan untuk meningkatkan motivasi konseli untuk dapat memotivasi dirinya sendiri khususnya dalam hal belajar dan dalam kehidupan nyata.

C. Pertemuan ketiga

Hari/tanggal                :    7 November 2023

Tempat                        :    Lab. Komputer

Waktu                         :    14.00 – 14.40

Kegiatan                     :    Bimbingan kelompok

Pada pertemuan ketiga siklus II, peneliti melaksanakan layanan bimbingan kelompok sesuai dengan rencana pelaksanaan layanan (RPL) dan pedoman observasi dengan prosentase kesesuaiannya mencapai 75%. Berikut dijelaskan tahap-tahap pelaksanaan layanan bimbingan kelompok:

  1. Tahap Pembentukan

Pemimpin kelompok membuka kegiatan bimbingan kelompok dengan mengucapkan salam dan terimakasih kepada seluruh siswa atas waktu dan kesediaannya berkumpul untuk mengikuti kegiatan ini. Setelah itu mengajak anggota kelompok untuk sama-sama berdoa. Kemudian pemimpin kelompok menjelaskan pengertian bimbingan kelompok, tujuan, azas dan cara pelaksanaan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Pada tahap ini semua anggota kelompok sudah memahami apa yang dimaksud dengan bimbingan kelompok, tujuan dilakukannya serta asas-asas yang harus dipatuhi oleh setiap anggota kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk saling memperkenalkan diri dengan menggunakan rangkaian nama serta menyebutkan hobby yang di mulai dari pemimpin kelompok dahulu.

  1. Tahap Peralihan

Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, setelah itu pemimpin kelompok menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya.

  1. Tahap Kegiatan

Pada tahap kegiatan ini pemimpin kelompok menjelaskan bagaimana langkah-langkah permainan yang akan dimainkan. Pemimpin kelompok menjelaskan bahwa bimbingan kelompok ini adalah topik bebas karena topik belum ditentukan oleh pemimpin kelompok. Namun pemimpin kelompok juga menjelaskan bahwasannya bimbingan kelompok kali ini berbeda dengan bimbingan kelompok biasanya. Bimbingan kelompok kali ini menggunakan media permainan ular tangga, jadi dapat sambil bermain. Kemudian pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok untuk mengeluarkan pendapatnya mengenai topik yang dibahas dan permainan yang akan dimainkan.

  1. Tahap Pengakhiran

Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan ini akan segera berakhir. Kemudian pemimpin kelompok meminta anggota kelompok untuk membuat komitmen serta kesan dan pesan atas kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilaksanakan. Setelah itu berdoa untuk menutup layanan bimbingan kelompok dan bernyanyi “sayonara” serta saling bersalam-salaman

Tujuan                         :

Data hasil wawancara dan observasi bertujuan untuk mengetahui prosentase peningkatan motivasi belajar siswa.

Hasil pertemuan        :

Proses pengakhiran bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga berjalan dengan baik. Setelah bimbingan kelompok diakhiri, pemimpin kelompok meminta anggota kelompok untuk secara jujur mengungkapkan perubahan setelah mengikuti rangkaian bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga. Semua konseli menjawab dengan baik dan jujur.

Dalam pelaksanaan ini, peneliti melaksanakan sesuai dengan hasil evaluasi siklus I. sedangkan kolaborator/teman sejawat melaksanakan tugasnya sebagai pengamat dan pemberi saran atau masukan demi perkembangan proses bimbingan. Pengambilan data dan analisis data dalam siklus II ini peneliti menggunakan hasil tes dan observasi.

  1. Hasil Tes

Hasil tes ini digunakan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa dibandingkan dengan hasil tes sebelum dan sesudah diberikan bimbingan kelompok dan didapat hasil seperti berikut :

Tabel 4.5 Hasil Tes siklus II

No Nama Pre test Kategori Hasil Tes I Kategori Hasil Tes II Kategori
1 AB 104 Rendah 120 Sedang 138 Tinggi
2 DF 109 Rendah 123 Sedang 140 Tinggi
3 AR 103 Rendah 117 Sedang 139 Tinggi
4 MH 102 Rendah 114 Redah 136 Sedang
5 ZE 113 Rendah 124 Sedang 142 Tinggi
6 SF 115 Rendah 128 Sedang 138 Tinggi
7 NF 109 Rendah 130 Sedang 140 Tinggi

Dari tabel 4.5 dapat dibandingkan perkembangan peningkatan motivasi belajar siswa yang telah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga. Dengan perbandingan dari hasil tes yang semula 7 siswa rendah menjadi tinggi dan masih ada satu siswa yang masih dalam kategori sedang. Ini berarti layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII-D SMP negeri 4 Lamongan.

Selain perbandingan perkembangan peningkatan motivasi belajar siswa diatas, juga dapat dilihat dari diagram batang dibawah ini :

Dilihat dari diagram diatas, menunjukkan peningkatan motivasi belajar siswa dari hasil tes sebelum diberikan perlakuan dan setelah diberikan perlakuan siklus I dan siklus II.

Dari dua data diatas, berdasarkan batas minimal skor hasil tes yang ditetapkan sebagai skor rendah yaitu 115 maka semua siswa mengalami peningkatan setelah diberikan siklus I dan siklus II konseling kelompok. Dilihat dari hasil individu, pada siklus I, namun setelah diberikan siklus II hasilnya seluruh siswa mengalami peningkatan dari kategori rendah menjadi sedang dan kategori sedang menjadi kategori tinggi.

2. Observasi

Observasi dilakukan oleh kolaborator/teman sejawat dengan cara mengamati peneliti dan perkembangan siswa dalam proses konseling kelompok. Kolaborator/teman sejawat mengisi lembar observasi yang disediakan peneliti sebagai berikut :

a. Pengamatan kolaborator/teman sejawat pada siswa Siklus II

Tabel 4.6 Lembar hasil pengamatan terhadap siswa oleh kolaborator/teman sejawat siklus II

No Aspek yang diamati Kriteria Jumlah
1 2 3 4
1. Aktif dalam kegiatan layanan
2. Bertanya kepada teman mengenai kegiatan yang dilakukan
3. Bertanya    kepada    guru    mengenai

kegiatan yang diikuti

4. Menjawab pertanyaan teman
5. Menjawab pertanyaan guru
6. Mengemukakan pendapat
7 Menghargai pendapat teman
8 Membangun     sendiri     pengetahuan

yang dimiliki

Skor Total 0 2 12 12
Rata-rata 81,25%

Keterangan :

4     :    Sangat Baik (SB)

3     :    Baik (B)

2     :    Cukup (C)

1     :    Kurang (K)

Dengan menggunakan lembar pengamatan diatas dan didapat perhitungan persentase aktivitas siswa pada saat diberikan layanan konseling kelompok oleh konselor adalah sebagai berikut :

Rata-rata persentase aktivitas siswa :

Berdasarkan tabel 4.13 menurut kolaborator atau teman sejawat (pengamat) bahwa aktivitas siswa pada saat diberikan layanan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga terjadi peningkatan yang sangat signifikan yaitu mencapai 81,25% pada siklus II dibandingkan pada siklus I yang hanya mencapai persentasi 62,5%.

b. Lembar pengamatan untuk peneliti :

Tabel 4.7 Persentase pengamatan kegiatan pemberian layanan bimbingan kelompok oleh konselor Siklus II

No Aspek yang diamati Kriteria Jumlah
1 2 3 4
1. Menyampaikan tujuan pemberian

layanan bimbingan kelompok

2. Ketepatan perumusan tujuan

pelayanan

3. Relevansi teknik/metode dengan

tujuan bimbingan

 

4.

Pembukaan (kejelasan dan keterarahan aktivitas guru BK

dengan tujuan tahap pembukaan)

 

5.

Transisi (kejelasan dan keterarahan aktivitas guru BK dengan tujuan

tahap transisi)

 

 

6.

Inti (kejelasan dan keterarahan intervensi yang akan digunakan oleh guru BK untuk mengubah perilaku

konseli dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan)

 

 

7.

Penutupan (kejelasan keterarahan kegiatan guru BK dengan tujuan tahap penutupan, meliputi: merangkum, refleksi, memberikan

penguatan, dan tindak lanjut)

Skor Total 9 16
Rata-rata 89,2%

 

Rata-rata persentase proses kegiatan layanan bimbingan       kelompok diperoleh dari perhitungan sebagai berikut :

Rata-rata persentase layanan bimbingan kelompok :

Dari tabel 4.7 persentase diatas dapat disimpulkan bahwa peneliti dalam proses layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga yang dilakukan oleh peneliti sudah mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan penilaian pada siklus I. Pada siklus II persentase pengamatan 89,2% lebih bagus dibandingkan pada siklus I yang hanya 67,8%.

3. Refleksi

Setelah seluruh kegiatan berakhir, penulis melakukan refleksi terhadap rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan pada siklus II. Pertama, penulis penulis merefleksikan pelayanan yang telah diberikan kepada anggota kelompok/konseli. Memang penulis menemukan bahwa pelayanan bimbingan kelompok yang diberikan kepada konseli sangat membantu anggota kelompok/konseli dalam mengatasi masalahnya yaitu terkait dengan motivasi belajar.

Dari hasil analisis siklus II, maka oleh kolaborator/teman sejawat dan peneliti merefleksikan dari hasil kegiatan bimbingan kelompok dengan membandingkan hasil siklus-siklus sebelumnya dan didapat hasil dari proses bimbingan kelompok. Dalam penelitian menggunakan bimbingan kelompokdengan media permainan ular tangga untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, diketahui adanya peningkatan yang positif dalam proses layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Hal ini ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut :

a. Perkembangan tingkat motivasi belajar siswa sudah mencapai target yang ditentukan oleh peneliti. Target yang ditentukan adalah peningkatan motivasi belajar yang dapat diketahui dari peningkatan skor dari kategori rendah menjadi kategori sedang, dan dari kategori sedang, menjadi kategori tinggi.

b. Skor hasil tes tidak mengalami peningkatan pada siklus I, pada siklus II mengalami peningkatan yang dulu nya kategori rendah meningkat menjadi kategori sedang.

c. Peneliti melaksanakan bimbingan kelompok dengan baik

d. Siklus II ini adalah siklus terakhir, karena sudah mencapai target yang ada di indikator pencapaian yang sudah ditargetkan oleh peneliti

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang sudah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada kelas VIII-D SMP Negeri 4 Lamongan. Hasil tersebut dapat diketahui dengan adanya peningkatan skor motivasi belajar, yang dilihat dari hasil tes alat ukur motivasi belajar. Pada perlakuan siklus I, terdapat perubahan atau hasil yang positif dari semua anggota kelompok meskipun hasil nya masih belum memenuhi target keberhasilan penelitian, sehingga masih perlu diberikan perlakuan untuk siklus II. Setelah diberikan perlakuan siklus II, maka diperoleh hasil yang sangat postif. Seluruh anggota kelompok mengalami peningkatan skor dan mengalami kenaikan kategori, namun masih ada satu yang masih dalam kategori sedang tetapi untuk skor sudah meningkat dibandingkan dengan setelah pemberian perlakuan pada siklus I.

B. Saran

Dari serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dan pelaksanan penelitian tindakan dalam bimbingan dan konseling, mulai dari pengujian, penghitungan, dan analisis data yang telah dilakukan, serta hasil yang telah disajikan oleh peneliti, yaitu bahwa motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan melalui kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga pada siswa kelas VIII-D SMP Negeri 4 lamongan dilihat dari peningkatan yang terjadi pada siklus I maupun siklus II yang akhirnya semua anggota kelompok mengalami peningkatan skor motivasi belajar dari kategori rendah ke kategori sedang maupun kategori sedang ke kategori tinggi, meskipun ada anggota kelompok yang masih ada dalam kategori sedang namun sudahh terjadi peningkatan pada skor yang diperoleh yang dilihat dari hasil tes.

Maka dari itu, peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya yang serupa sebagai berikut :

  1. Bagi guru bimbingan dan konseling / konselor sekolah

Hendaknya selalu menerapkan metode mengajar yang menyenngkan bagi siswa, sehingga siswa lebih termotivasi dan tertarik dan ikut aktif dalam proses kegiatan belajar dan mengajar maupun proses pemberian layanan dalam bimbingan dan konsleing.

  1. Bagi sekolah

Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang terlihat dari hasil perubahan skor dan kategori rendah menjadi tinggi. Dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh sekolah dalam membuat kebijakan bahwa bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga dapat diterapkan di sekolah karena bimbingan kelompok merupakan salah satu layanan dalam bimbingan dan konseling.

  1. Bagi penelitian selanjutnya

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan motivasi belajar siswa kelas Siswa Kelas VIII-D SMP Negeri 4 Lamongan setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Peneliti selanjutnya dapat melaksanakan penelitian serupa dengan menambahkan menambah alat pengumpul data yang lain, karena dalam penelitian ini hanya menggunakan angket sebagai alat pengumpul data.

Daftar Pustaka

Alamsyah Said dan Andi Budimanjaya, 95 Strategi Mengajar Multiple Intelegences Mengajar Sesuai Kerja Otak Dan Gaya Belajar Siswa , (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015)

Arikunto, S dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Askara.

Azam, Ulul. 2016. Bimbingan dan Konseling Perkembangan di Sekolah (Teori dan Praktik). Yogyakarta: Deepublish.

Badudu dan Zain. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1999. Bahan pelatihan : penelitian tindakan (Action Research). Jakarta : Depdikbud

Hamalik, Prof. Dr. Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Hasanah, Uswatun. 2009. Penggunaan Konseling Kelompok Pendekatan Realita Untuk Menurunkan Tingkat Perilaku Menarik Diri (Withdrawl) Pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA N 4 Sidoarjo. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya : PPB FIP UNESA

Haqiqi, A. 2017. “Pengembangan Media Permainan Ular Tangga untuk Layanan Bimbingan dan Konseling Bagi Siswa Kelas VII”, Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, 214–231.

Husna, A. M. (2009). 100+ Pemain Tradisional Indonesia untuk Kreatifitas, Ketangkasan, dan Keakraban. Yogyakarta: Andi.

Meleong, Lexy J. 2005. Metodologi penelitian Kualititif. Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Nurihsan, Achmad Juntika. 2006. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Belakang Kehidupan. Bandung: PT Refika Aditama.

Nursalim, M dan Suradi. 2002 : Layanan Bimbingan dan Konseling. Surabaya : Unesa University Press.

Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil).

Padang : Ghalia Indonesia

Prayitno dan Erman. 2004. “Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling”. Jakarta : Rineka Cipta.

Rifki Afandi, “Pengembangan Media pembelajaran permainan ular tangga untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar IPS di sekolah dasar”.JINop (Jurnal Inovasi Pembelajaran), Vol.1, No.1, Mei 2015, h. 80

Sardiman, A.M. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.

Sri mulyani, 45 permainan tradisional anak Indonesia, (Yogyakarta : Langensari publishing, 2013) h. 121

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Sukardi, D. K. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

W.S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi

Yasin Yusuf dan Umi Auliya, Sirkuit Pintar Melejitkan Kemampuan Matematika & Bahasa Inggris dengan Metode Ular Tangga, (Jakarta : Visimedia, 2011) h 16-17

LAMPIRAN 1

RPL, MATERI, ANGKET EVALUASI PROSES, ANGKET EVALUASI HASIL

 

MOTIVASI BELAJAR

A.     Pengertian

Seorang tokoh bernama ferdinand foch mengatakan bahwa senjata yang paling ampuh di dunia ini adalah jiwa manusia yang terbakar menyala-nyala. Ini adalah ungkapan te ntang motivasi. Motivasi dapat mengalahkan ketakutan, kemalasan, dan kelelahan.

Dalam petandingan sepakbola, kedua tim yang bertanding selalu berusaha keras untuk bermain sesuai strategi, untuk bisa mengalahkan lawan. Dalam posisi imbang, mereka berusa segera mungkin mengguli lawanya. Ketika sudah unggul, mreka akan mempertahankan dan mencoba menambah keunggulan. Ketika ketinggalan, mereka berusaha untuk menyamakn kedudukan, bahkan mengembalikan keadaan. Semua dapat terjadi ketika semua pemain dapat melakukan hal itu.

Dorongan yang kuat dari dalam diri akan memunculkan energi yang terus berusa mencapai keberhasilan yang diinginkan. Pada saat belajar atu mengerjakan tugas, ada saat ketika kita sungguh-sungguh, dan ada pula saat sebaliknya. Itu semua dipengaruhi oleh motivasi dari dalam diri kita sendiri. Motivasilah yang memberi daya dorong dalam diri kita untuk melakukan sesuatu. Meskipun keberhasilan sebagai siswa ditentukan oleh stategi belajardan kemampuan dasar yang dimiliki, motivasilah yang menjadipemicu energi untuk berprestasi.

Intelegensi atau kemampuan intelektual dan bakat merupakan faktor penting untuk mencapai suatu prestasi. Namun, Keduanya tidak akan bermanfaat apabila sesorang tidak memiliki motivasi yang memadai. Walaupun hasil tes kecerdasan menunjukan angka yang tinggi, Jika seorang tidak ingin memanfaatkan nelebihan tersebut, maka semua menjadi tidak berarti. Namun sebaliknya, jika seorang hanya memiliki IQ yang biasa-biasa saja, tetapi ia memiliki motivasi yang tinggi untuk berprestasi, maka ia tidak tidak mustahil ia akan meraihnya.

Di sekolah, motivasi menjadi dasar yang amat penting untung pencapaian keberhasilan tujuan pendidikan dan efektifitas kegiatan pembelajaran. Motivasi siswa untuk belajar membuat ia memiliki keinginan kuat untuk mengikuti dan menghargai segala kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar.

B.     Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar

Motivasi belajar dalam diri seseorang siswa sangat dipengaruhi oleh faktor yang sangat tertkait oleh perkembangan kehidupanya, yaitu lingkungan budaya atau kebiasaan di lingkungan, keluarga dengan tuntunanya, sekolah dengan sistemyang diberlakukanya, selain siswa itu sendiri lingkungan sering menuntut seorang siswa untuk melakukan ini dan itu serta kela menjadi orang yang sukseks. Ketika seorang siswa dapat secara bijak menanggapi tuntutan ini, maka ia akan termotivasi untuk mewujutkanya, yaitu dengan cara belajar sungguh-sungguh. Namun, apabila itu dianggap terlalu berlebihan dan memberani, maka seorang siswa akan kesulitan belajar dengan baik dalam hal ini, kedewasaanya dalam menyikapi lingkungan sangat diperlukan.Ambisi atau tuntutan dari orangtua atas siswa dalam prestasi belajar kadang berlebihan, tanpa melihat realitas dalam diri siswa tersebut. Jika siswa tersebut kuat dan termotivasi untuk mewujutkanya, maka hal itu mungkin menjadi tidak masalah, walaupun mencapainya tidak mudh. Namun sebaliknya ambisi yang kurng masuk akal akan men menjadi beban bagi seorang siswa sehingga menurunkan motivasi belajarnya. Menanggapi persoalan ini disamping bersikap realistis, seorang siswa seharusnya mempertahankan prestasinya untuk berprestasi.

System ranking atau peringkat yang biasanya ditulis dibuku laporan hasil belajar ditanggap[i berbeda oleh masing-masing siswa dan orangtuanya. Siswa yang tergolong dalam peringkat 10 besar berada dalam posisi yang aman dan membanggakan. Namun, seringkali mereka yang tidak termasuk dalam perilaku 10 besar dianggap tidak berprestasi, padahal nilai rata-rata yang mereka raih tergolong cukup dan selisihnya hanya sedikit dibanding yang diperingkat 10 besar.

System peringkat serinmg menjadi beban bagi seorang siswa dan orangtua. Ketika seorang siswa merasa bahwa dirinya tidak bisa berprestasi tinggi, mreka tergolong untuk berlaku curang pada saat ulangan. Yang lebih berbahaya, hal itu justru menjadi beban yang akn melemahkan motivasi belajarnya karena mereka merasa frustrasi. Apabila sistem ini masih berlaku di sekolah, para siswa seharusnya tetap belajar dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pihak sekolah juga perlu memberi pengertian pada orangtua bahwa prestasi beljar tidak ditentukan semata-mata oleh peringkat. Apabila system ini sudah dihapuskan, para siswa harus tetap termotivasi untuk berprestasi, dengan cara yang baik tentunya.

Factor yang paling dominan menentukan motivasi belajar seorang siswa adalah diri siswa itu sendiri. Hal ini karena siswa sendirilah yang akhirnya mengambil keputusan tentang apa nyang hendak ia lakukuan dan bertanggungjawab atas hasil belajarnya.

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi manusia untuk belajar. Motivasi belajar terjadi dari tindakan perbuatan persiapan mengajar. Menurut Dimyati faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut :

1.Cita-cita / Aspirasi Siswa

Motivasi belajar tampak pada keinginan anak yang sejak kecil, seperti keinginan bermain. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan keinginan bergiat. Bahkan dikemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan.

2. Kemampuan Siswa

Keinginan seorang anak perlu dibarengi kemampuan dan kecakapan mencapainya. Keinginan membaca perlu dibarengi kemampuan mengenal dan mengucapkan huruf ”R”. Misalnya dapat dibatasi dengan diri melatih ucapan ”R” yang benar. Latihan berulang kali menyebabkan bentuknya kemampuan mengucapkan ”R”. Dengan kemampuan pengucapan huruf ”R” akan terpenuhi keinginan akan kemampuan belajar yang memperkuat anak-anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.

3. Kondisi Siswa

Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang yang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya seorang siswa yang sehat, kenyang, dan gembira akan memusatkan perhatian pada pelajaran dan akan termotivasi untuk belajar.

4. Kondisi Lingkungan Siswa

Lingkungan siswa dapat berubah keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar, bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, ancaman teman yang nakal akan mengganggu kesungguhan belajar, sebaliknya kampus, sekolah yang indah, pergaulan siswa yang rukun akan memperkuat motivasi belajar. Dengan lingkungan yang aman, tenteram, tertib dan indah maka semangat belajar akan mudah diperkuat.

5. Unsur-Unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran

Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup, pengalaman teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam, tempat tinggal dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya siswa yang berupa surat kabar, majalah, rasio, ke semua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar.

6. Upaya Guru Dalam Mengelola Kelas

Upaya guru dalam membelajarkan siswa terjadi di sekolah maupun di luar sekolah. Upaya pembelajaran di sekolah meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Menyelenggarakan tertib belajar di sekolah
  2. Membina disiplin belajar dalam setiap kesempatan
  3. Membina belajar tertib bergaul
  4. Membina belajar tertib lingkungan sekolah

C. Cara mempertahankan motivasi belajar

Bagaimana cara agar motivasi belajar menjadi panggilan jiwa seorang siswa? Ada beberapa pemahaman yang perlu dicamkan oleh para siswa,antara lain sebagai berikut:

a. Siswa hendaknya mau menerima realistis diri apa Siswa masih membutuhkan bimbingan untuk berkembang menuju kedewasaan. Karakter dan bakat yang ada harus disadari sebagai kekayaan diri. Kesadaran akan keunikan diri yang dimiliki akan memunculkan penghargaan atas kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri sendiri, sehingga siswa dapat menghargai siswa secara wajar. Hal ini diharapkan mendatangkan kedewasaan untuk mengambil pilihan yang bijak dalam belajar.

b. Siswa hendaknya mampu mendalami kemampuan diri dan bersedia menunjukan segala potensinya tanpa mersa paksa

c. Siswa hendaknya berani menentukan pilihan dan mengambil keputusan tentang masa depannya secara bertanggung Ini dapat memotivasi diri untuk mengembangkan potensi diri yang dimiliki

d. Siswa hendaknya mau berdialog dengan guru dan teman. Saling memahami akan melahirkan perasaan diterima dan mengerti kesulitan masing-masing. Hal ini dapat membantu mencari jalan keluar terbaik ata persoalan yang dihadapi, yang dapat membantu motivasi

D. Kategori motivasi belajar

Menurut Waldi (2005), ada empat ktegori motivasi belajar siswa, yitu achiever,sicoable, conscientious, dan corius. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Siswa dengn motivasi belajar achiever lebih berorientasi pada keinginan untuk unggul dalam persainga dan bersifat kompetitif. Motivasi in i lebih dipengaruhi oleh faktor tean dan keluarga

b. Siswa dengan motivasi belajar sociable memiliki semangat kebersamaan, bersifat koopratif non koopratif. Siswa dengan motivasi ini lebih menyukai keberhasilan bersama

c. Siswa dengan motivasi belajr conscientious hanya melakukan kegiatan jika telah mendapat petunjuk yang jelas dan terikat pada peraturan

d. Siswa dengan motivasi belajar curious selalu ingin tahu, tidak suka kemapaman, dan menambakan perkembangan. Siswa seperti ini lebih menyukai hal-hal yng baru pada perkembangan keilmuan

Jenis Motivasi

Secara umum, dalam hubungannya dengan belajar, para ahli sepakat mengklasifikasikan motivasi ke dalam dua jenis menurut timbulnya, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Muhibbin Syah mengatakan secara umum motivasi diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu:

1. Motivasi intrinsik.

Motivasi intrinsic adalah hal dan keadaan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Yang tergolong ke dalam klasifikasi ini adalah : perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut misalnya materi pelajaran tersebut berhubungan dengan cita-cita masa depan siswa yang bersangkutan.[20]

2. Motivasi Ekstrinsik.

Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Yang tergolong ke dalam motivasi eksternal ini adalah: pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua/guru, dan lain-lain.[21] Seorang guru sebaiknya memahami juga, bahwa motivasi ekstrinsik, hanya efektif jika adanya perangsang-perangsang dari luar yang mengakibatkan seorang siswa mengubah tingkah lakunya secara efektif. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi ekstrinsik seringkali hanya memegang peranan yang kecil, namun seringkali seorang guru menganggap dirinya mampu mengubah motivasi internal dengan upaya tertentu (memberi hadiah atau hukuman). Motivasi ekstrinsik ini, hanya akan efektif jika motivasi intrinsik siswa mengalami perubahan dengan sendirinya melalui sejumlah pengalaman. Maka, seorang guru sebaiknya tidak terlalu terpaku merencanakan motivasi eksternal yang terlalu berlebihan, agar tidak membuat siswa hanya membeo tingkah laku atau kemampuan yang dimilikinya.

LAMPIRAN 2

FOTO DOKUMENTASI

 

DOKUMENTASI

1. Foto Pelaksanaan media permainan ular tangga

2. Foto Seminar

 

 

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2