Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Bimbingan Kelompok dengan Metode Permainan Ular Tangga pada Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 4 Lamongan Tahun Pelajaran 2023/2024
Oleh :
Siti Asmawati Hasyim, S.Pd
ABSTRAK
Sebagai layanan bimbingan dan konseling hendaknya berdiri sejajar dengan pelajaran wajib yang lain. Namun sering kita temui bahwasannya mata pelajaran seni budaya menjadi pelajaran yang kurang menarik motivasi siswa sehingga prestasi belajar mereka sangat kurang. Seni Budaya memiliki 4 bidang seni yang di pelajari yakni : Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater. Pembelajaran yang kompleks tersebut, siswa kurang memahaminya secara optimal, sehingga siswa cenderung melakukan dengan tidak sungguh-sungguh.
Dari latar belakang di atas, banyak permasalahan yang dihadapi dalam kelas. Banyak siswa yang kurang memiliki motivasi belajar, siswa malas dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran hanya karena pembelajarannya yang kompleks.
Menilik perilaku siswa yang bermacam-macam , penulis mencoba meneliti lebih jauh dan mencarikan solusi yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan juga prestasinya. Baik secara internal maupun eksternal. Penulis mengambil salah satu kelas di SMP Negeri 4 Lamongan yaitu kelas VIII-D.
Permaslahan pun muncul sehingga penulis merumuskan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimana strategi pembelajaran seni rupa di kelas VIII SMP Negeri 4 Lamongan yaitu kelas VIII-D dengan menggunakan Pendekatan Saintifik dan metode pembelajaran berbasis proyek “Project Based Learning”? (2) Bagaimana tingkat keberhasilan strategi pembelajaran seni rupa di kelas SMP Negeri 4 Lamongan yaitu kelas VIII-D dengan menggunakan Pendekatan Saintifik serta metode Pembelajaran Berbasis Proyek “Project Based Learning”?
Penelitian dilakukan dengan melakukan pembelajaran Siklus 1 dan Siklus 2. Dalam pembelajaran tersebut ada beberapa langkah yakni : (1) Perencanaan (Planing), (2) Tindakan (Action), (3) Observasi (Observation), dan (4) Refleksi (Reflection).
Setelah melakukan kegiatan di atas dapat dibandingkan hasil prestasi dan motivasi siswa mengalami perubahan menjadi lebih baik, yakni 85 % siswa dinyatakan TUNTAS dalam pembelajaran dengan menggunakan dengan menggunakan Pendekatan Saintifik dan metode pembelajaran berbasis proyek “Project Based Learning”. Siswa juga memiliki motivasi dan semangat dalam belajar karena adanya tanggung jawab yang diberikan pada masing-masing siswa.
Kata Kunci : Pendekatan Saintifik,Pembelajaran Berbasis Proyek, dan Hasil Belajar
KATA PENGANTAR
Puja puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat serta hidayah-Nya sehingga Laporan Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling ini dapat diselesaikan secara tepat waktu.
Dalam rangka memberikan pemahaman tentang pentingnya tujuan belajar dan meningkatkan motivasi belajar di SMP Negeri 4 Lamongan maka di susunlah PTBK (Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling ) untuk membantu siswa meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi siswa.
Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dalam keseluruhan sistem pendidikan di sekolah, sehingga keberadaannya memberikan fasilitas kepada para siswa untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugas perkembangan mereka melalui pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan peserta didik sebagai konseli. Berdasarkan permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah, pelayanan klasikal yang di rujuk dari pelayanan bimbingan klasikal merupakan salah satu pelayanan dalam program bimbingan dan konseling yang diberikan kepada para siswa di dalam kelas dengan alokasi waktu 2 x 40 menit bagi SMP sederajat dan 2 x 45 menit bagi SMA sederajat per-minggu yang berlangsung dalam setiap semester. Dengan demikian, setiap siswa dapat terfasilitasi melalui pelayanan bimbingan dan konseling yang sesuai kebutuhan mereka.
Implementasi pelayanan klasikal tentu perlu diimbangi dengan inovasi dalam pengguna metode dan media pelayanan yang secara konsep teoritis terdukung dari data empiris. Untuk memenuhi hal tersebut, perlu di lakukan kajian melalui program penelitian tindakan dalam bimbingan dan konseling yang terencana dengan baik, sehingga dapat memperoleh hasil yang valid sebagai rujukan dalam program pengembangan kedepan.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini, khususnya kepada Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud atas fasilitas biaya melalui program PPG tahun anggaran 2023. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat.
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDU .……………………… i
LEMBAR PENGESAHAN …..……………. ii
ABSTRAK …………….………………………… iii
KATA PENGANTAR …..……………………. iv
DAFTAR ISI ……………………………………… v
DAFTAR BAGAN ……………………………….. viii
DAFTAR TABEL …………………………………. ix
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang …………………………. 1
- Rumusan Masalah ……………………. 3
- Tujuan penelitian …………………….. 3
- Manfaat Penelitian …………………… 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA
- Motivasi Belajar Siswa ……………… 5
- Pengertian Motivasi Belajar………………………………… 5
- Macam-macam Motivasi Belajar………………………………… 5
- Ciri-ciri Motivasi Belajar………………………………… 6
- Bimbingan Kelompok dengan Media Permainan Ular Tangga…………….. 7
- Bimbingan Kelompok ………. 7
- Pengertian Bimbingan Kelompok ………………….. 7
- Tujuan Bimbingan Kelompok…………………… 7
- Asas Bimbingan Kelompok…………………… 8
- Tahap-tahap Bimbingan Kelompok……………………. 9
- Media Permainan Ular Tangga………………………………… 11
- Pengertian Media Permainan Ular Tangga………………. 11
- Manfaat Media Permainan Ular Tangga………………… 11
- Kelebihan Media Permainan Ular Tangga……………….. 12
- Langkah-langkah Media Permainan Ular Tangga
- Bimbingan Kelompok ………. 7
Untuk Memotivasi Belajar Siswa………………………………………………… 12
- Penelitian Terdahulu………………………………… 13
- Kerangka Berpikir…………………… 14
- Hipotesis…………………………………… 15
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
- Jenis Penelitian…………………………. 16
- Subjek dan Obyek Penelitian………………………………….. 16
- Tempat dan waktu penelitian………………………………….. 17
- Prosedur Penelitian…………………………………… 17
- Tahapan Penelitian Siklus I…………………………………………. 18
- Tahapan Penelitian Siklus II………………………………………… 19
- Teknik Pengumpul Data…………………………………………….. 20
- Observasi…………………………… 20
- Angket………………………………… 20
- Instrumen Penelitian ………………… 21
- Peneliti……………………………….. 21
- Lembar Observasi …………….. 21
- Teknik Analisis Data ………………….. 21
- Data Kuantitatif …………………. 21
- Data Kualitatif ……………………. 22
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
- Penelitian ……………………………………. 23
- Pelaksanaan Siklus I …………………… 24
- Rencana Tindakan I …………… 24
- Pelaksanaan Siklus I Penelitian Tindakan……………………………… 25
- Refleksi ………………………………… 31
- Pelaksanaan Siklus II …………………… 31
- Perencanaan ……………………….. 32
- Pelaksanaan atau Tindakan .. 32
- Refleksi …………………………………. 39
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
- Kesimpulan …………………………………… 41
- Saran ……………………………………………… 41
DAFTAR PUSTAKA ………………………………….. 43
DAFTAR BAGAN
Halaman
Bagan 2.1 Kerangka pikir Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Bimbingan Kelompok dengan Metode
Permainan Ular Tangga………………………………………………… 15
Bagan 3.1 Model Penelitian Tindakan Kelas……………………………………………………. 16
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Daftar siswa yang menjadi subjek penelitian………………….,…………………………….. 17
Tabel 4.1 Hasil Pengukuran awal angket Motivasi Belajar……………………………………….24
Tabel 4.2 Hasil Tes Siklus I …………………….. 29
Tabel 4.3 Lembar hasil pengamatan terhadap siswa oleh kolaborator/teman sejawat Siklus…………………………..,………………………….. 29
Tabel 4.4 Presentase pengamatan kegiatan pemberian layanan Konseling kelompok oleh konselor Siklus I ……………,……………………… 30
Tabel 4.5 Hasil Tes Siklus I …………………….. 37
Tabel 4.6 Lembar hasil pengamatan terhadap siswa oleh kolaborator/ teman sejawat Siklus II ……………………………………………………………… 38
Tabel 4.7 Presentase pengamatan kegiatan pemberian layanan Konseling kelompok oleh konselor Siklus II …………………………………… 39
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai mahluk sosial, tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Mereka saling membutuhkan antara satu sama lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dalam hidup bersama perlu adanya suatu interaksi yaitu proses timbal balik yang bertujuan mendewasakan manusia agar nantinya dapat menemukan jati dirinya secara utuh.
Untuk dapat memahami interaksi itulah secara khusus dikenal istilah interaksi belajar-mengajar yang titik penekanannya ada pada motivasi. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan sebuah pekerjaan maupun kegiatan seperti halnya belajar. Hasil belajar akan menjadi optimal jika ada motivasi belajar. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif kearah yang lebih baik. Jadi motivasi merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia, demikian pentingnya sampai ada pernyataan bahwa “motivasi adalah energi yang dimiliki seseorang untuk belajar” (Sardiman, 2010 : 73).
Kemampuan memotivasi belajar mulai sangat diperlukan saat manusia memasuki masa remaja karena masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak sehingga remaja sering dihadapkan pada persoalan-persoalan yang kompleks yang menjadi permasalahan yang dirasakan sulit oleh para remaja termaksud dalam hal belajar. Siswa SMP yang tergolong dalam usia remaja, mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan serta mempunyai kecenderungan kurang stabil secara psikis banyak mengalami kesulitan dalam memotivasi cara belajar, akibatnya aktivitas belajarnya menurun dan prestasi yang diperolehnya kurang memuaskan.
Pemberian pemahaman tentang pentingnya tujuan belajar masih sangat sulit untuk dipahami oleh siswa pada umumnya. Sehingga dibutuhkan layanan- layanan yang bisa membantu siswa dalam menyelesaikan konflik yang ada pada dirinya. Salah satunya ada pada layanan bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan Konseling memiliki tujuh layanan yang merupakan kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa sekolah pada khususnya dalam rangka meningkatkan mutunya.
Dari pengamatan dan pengalaman yang ada, penulis menganggap layanan bimbingan kelompok akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan layanan yang lainnya. Karena dari pengalaman yang terjadi dilapangan siswa sudah mulai merasa bosan dan jenuh dengan penggunaan layanan informasi yang bersifat klasikal sehingga diperlukan sebuah layanan yang melibatkan partisipasi keseluruhan. Sedangkan penggunaan layanan konseling individu kadangkala dianggap negatif oleh siswa kerena siswa dipanggil secara pribadi dan mendapatkan pandangan yang buruk dari siswa-siswa lainya.
Peneliti akan memanfaatkan Layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode permainan ular tangga untuk membantu siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya. Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok (Nurihasan, 2006,23). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa bimbingan kelompok merupakan bantuan yang diberikan oleh guru pembimbing kepada siswa untuk membahas suatu topik dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Permainan ular tangga merupakan salah satu permainan yang masih dimainkan oleh anak-anak sampa dengan remaja. Permainan ini tidak hilang termakan zaman dan selalu berkembang fungsi dan tujuannya. Permainan yang sederhana, mendidik, menghibur dan sangat interaktif. Permainan ular tangga termasuk media permainan yang tidak lepas dari adanya gambar atau foto yang ada di papan permainan ular tangga. Pesan melalui gambar dapat menstimulasi dan menarik perhatian, mengilustrasikan fakta atau informasi. Bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara berkelompok dengan membahas suatu topik dengan memanfaatkan media permainan ular tangga.
Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi yang dilakukan, ditemukan sebuah fenomena terkait dengan permasalahan belajar siswa. Diketahui ada beberapa siswa yang cenderung memiliki motivasi belajar yang kurang. Hal ini nampak sekali setiap kali pemberian layanan klasikal dikelas,
Beberapa siswa tersebut cenderung cuek atau kadang berbicara sendiri dengan teman sebangkunya atau memilih diam dengan tidak memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru yang menerangkan. Beberapa siswa tersebut juga kurang peduli dengan tugas-tugas yang diberikan, dan terbiasa lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Banyak hal yang menyebabkan kurangnya motivasi belajar siswa, salah satunya adalah siswa kurang memahami tentang tujuan dari belajar dan terkesan mereka belajar hanya karena tuntutan dan hanya menginginkan nilai yang bagus. Peneliti sudah memberikan layanan bimbingan klasikal mengenai pentingnya motivasi belajar, namun masih ada beberapa siswa yang belum memahami betul akan pentingnya motivasi saat belajar.
Pada siswa kelas VIII-D, yaitu banyaknya siswa yang sering datang terlambat ke sekolah, tidak masuk tanpa keterangan, kurang semangat dalam mengikuti pelajaran atau tidak konsentrasi, sering membolos dalam mata pelajaran tertentu, dan hal ini membuat para siswa tersebut mengalami penurunan prestasi belajar.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan dalam bimbingan dan konseling dengan judul “Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Bimbingan Kelompok dengan Media Permainan Ular Tangga pada Siswa Kelas VIII-D SMP Negeri 4 Lamongan tahun Pelajaran 2023/2024”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka penulis merumuskan masalah “Apakah ada peningkatan Motivasi belajar siswa dengan memberikan Layanan Bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga?”.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah ada, maka tujuan penelitian ini adalah Untuk meningkatan Motivasi belajar siswa dengan memberikan Layanan Bimbingan Kelompok dengan Media Permainan Ular Tangga.
Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan agar terdapat manfaat, bagi :
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam bimbingan konseling.
Manfaat Praktis
a. Bagi penulis
Peneliti dapat mengetahui bagaimana prosedur untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan memberikan layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga.
b. Bagi sekolah
Penelitian ini dapat membantu sekolah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
c. Bagi konselor
Konselor dapat memotivasi siswa dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dengan memberikan layanan bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga.
d. Bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi oleh peneliti lain dalam melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Motivasi Belajar Siswa
1. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman, 2010 : 73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Menurut Eysenck dkk (dalam Slameto, 2003 : 170) motivasi dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep- konsep lain seperti minat, konsep diri, sikap dan sebagainya.
Menurut Oemar Hamalik (2007 : 28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Sedangkan, Sardiman A.M. (2010 : 22) mengatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori”.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu motif atau dorongan untuk melakukan suatu kegiatan/pekerjaan guna mencapai tujuan dalam rangka merubah tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.
2. Macam-Macam Motivasi Belajar
Menurut Oemar Hamalik (2007 : 162) motivasi belajar dapat dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut :
a. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang hidup dalam diri siswa dan berguna dalam situasi belajar yang
b. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijazah, tingkatan hadiah, hukuman dan
Menurut Sardiman A.M. (2010 : 86) macam- macam motivasi belajar dilihat yaitu antara lain :
a. Motif-motif bawaan, yaitu motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa Sebagai contoh misalnya : dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual
b. Motif-motif yang dipelajari, yaitu motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam \
c. Menurut Frandsen (dalam Sardiman A.M. (2010 : 87) macam- macam motivasi belajar dilihat yaitu antara lain :
d. Cognitive motives, motif ini menunjuk pada gejala intrinsik, yakni menyangkut kepuasan
e. Self-expression, penampilan diri adalah sebagian dari perilaku Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian.
f. Self-enhancement, melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri
g. Menurut Woodworth dan Marquis (dalam Sardiman A.M. (2010 : 88) macam- macam motivasi belajar dilihat yaitu antara lain :
h. Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya : kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat.
1). Motif-motif darurat yang meliputi : dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu.
2). Motif-motif objektif yang meliputi : kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwasanya, motivasi terjadi karena 2 faktor. Yaitu faktor yang berasal dari diri sendiri (intern) dan faktor yang berasal dari luar diri seseorang (ekstrinsik)
3. Ciri-Ciri Motivasi
Menurut Sardiman A.M. (2010 : 83) bahwa setiap tindakan manusia terjadi karena adanya unsur pribadi manusia. Sehingga terdapat ciri-ciri tersendiri dalam motivasi yaitu:
a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
b. Ulet menghadapi kesulitan. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapai)
c. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah (Misalnya masalah pembangunan, agama, politik, ekonomi, keadilan, korupsi, dan sebagainya)
d. Lebih senang bekerja sendiri
e. Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin (hal-hal yang berulang begitu saja sehingga kurang kreatif)
f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu)
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini
h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal
Berdasarkan hal tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik jika siswa mampu tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan masalah serta hambatan secara mandiri.
B. Bimbingan Kelompok dengan Media Permainan Ular Tangga
1. Bimbingan Kelompok
a. Pengertian Bimbingan Kelompok
Menurut Prayitno (1995 : 178), bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain. Apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya.
Sedangkan bimbingan kelompok menurut Sukardi (2008:64) yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara Bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber tertentu (terutama pembimbing/konselor) yang berguna untuk menunjang kehidupan sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan Masyarakat serta untuk pertimbangan pengambilan Keputusan.
Pendapat Prayitno (2004:309), menurut jumlah anggotanya dikenal adanya kelompok dua (yang terdiri dari dua orang), kelompok tiga dan seterusnya; kelompok kecil (beranggota 2-5 orang), kelompok sedang (6-15 orang), kelompok agak besar (16-25 orng), kelompok besar (26-40 orang), dan seterusnya sampai dengan kelompok “raksasa” yang jumlah anggotanya ratusan ribu orang.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu layanan dalam bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, Dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membentuk individu mencapai perkembangan yang optimal.
b. Tujuan Bimbingan Kelompok
Menurut Tohirin (dalam Nugraheni, 2019:36) secara umum layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi peserta layanan (siswa). Secara lebih khusus, layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi. Wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yakni peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal. Sedangkan menurut Tatiek ( dalam Nugraheni, 2019:37) menyatakan bahwa tujuan bimbingan kelompok yaitu untuk membantu individu menemukan dirinya sendiri, mengarahkan diri, dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Prayitno (dalam Azam, 2016: 136) mengkategorikan tujuan layanan bimbingan kelompok menjadi 2, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum yaitu berkembangnya kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi anggota kelompok. Tujuan khusus yaitu membahas topik-topik tertentu yang mengandung permasalahan aktual yang menjadi perhatian semua anggota kelompok. Dapat dipahami bahwa tujuan umum dari bimbingan kelompok yaitu meningkatkan kemampuan bersosialisasi siswa, serta tujuan khususnya yaitu pembahasan topik yang menjadi perhatian dari semua anggota kelompok.
Berdasarkan uraian pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan kelompok adalah melatih siswa untuk berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal, melatih siswa untuk mampu menyampaikan pendapat mengendalikan diri di dalam kelompok, serta mampu mengembangkan perasaan, persepsi, sikap untuk meningkatkan motivasi belajarnya.
c. Asas Bimbingan Kelompok
Prayitno (2004:13) mengemukakan dalam bimbingan kelompok terdapat beberapa asas, meliputi:
1). Asas kerahasiaan yaitu segala sesuatu yang dibahas dan muncul dalam kegiatan kelompok hendaknya menjadi rahasia kelompok yang hanya boleh diketahui oleh anggota kelompok dan tidak disebarluaskan keluar anggota
2). Asas kesukarelaan yaitu semua anggota dapat menampilkan diri secara spontan tanpa malu atau paksaan oleh teman lain atau pemimpin
3). Asas kegiatan dan keterbukaan yaitu para anggota bebas dan terbuka mengemukakan pendapat, ide, saran, tentang apa saja yang dirasakan dan dipikirkannya tanpa adanya rasa malu dan ragu-ragu.
4). Asas kekinian yaitu memberikan topik atau materi yang dibahas bersifat aktual dan hal-hal yang terjadi sekarang. Hal yang direncanakan sesuai dengan kondisi
5). Asas kenormatifan yaitu semua yang dibicarakan dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma-norma dan kebiasaan yang
6). Asas keahlian yaitu diperlihatkan oleh pemimpin kelompok dalam mengelola kegiatan kelompok dalam mengembangkan proses dalam isi pembahasan secara
Memahami pendapat Prayitno dan Amri (2004: 13), pelaksanaan bimbingan kelompok terdapat asas-asas di dalamnya, diantaranya yaitu :
1). Asas kerahasiaan yaitu bahwa pelaksanaan bimbingan kelompok menjadi rahasia anggota dan pimpinan kelompok.
2). Asas kesukarelaan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok, anggota kelompok mampu bersikap suka rela tanpa ada paksaan ataupun tekanan dari siapapun.
3). Asas kegiatan dan keterbukaan yaitu setiap anggota kelompok mampu bersikap terbuka dalam pelaksanaan bimbingan kelompok, baik terbuka dalam penyampaian ide gagasan maupun yang lainnya.
4). Asas kekinian yaitu pelaksanaan bimbingan kelompok membahas topik atau materi yang sedang menjadi trending topik pada saat itu.
5). Asas kenormatifan yaitu pelaksanaan bimbingan kelompok mengandung norma- norma yang berlaku.
6). Asas keahlian yaitu pemimpin kelompok dapat mengembangkan kegiatan kelompok serta membahas secara mendalam topik atau materi yang sedang dibahas.
d. Tahap-tahap Bimbingan kelompok
Menurut Prayitno (2004:46) ada empat tahapan bimbingan kelompok sebagai berikut”
1). Pembentukan
Pada tahap ini para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan atau harapan yang ingin dicapai oleh sebagai maupun seluruh anggota kelompok, memberikan penjelasan tentang bimbingan kelompok sehingga masing-masing anggota akan tahu apa arti dari bimbingan kelompok dan mengapa bimbingan kelompok harus dilaksanakan serta menjelaskan aturan main yang akan diterapkan dalam bimbingan kelompok ini.
Dalam tahap pembentukan pimpinan kelompok perlu :
a). Menjelaskan tujuan umum yang ingin dicapai melalui kegiatan kelompok itu dan menjelaskan cara-cara yang hendaknya dilalui dalam mencapai tujuan itu.
b. Mengemukakan tentang diri sendiri yang kira-kira perlu untuk berlangsungnya kegiatan bimbingan kelompok secara baik.
c. Menampilkan tingkah laku dan berkomunikasi yang mengandung unsur- unsur penghormatan kepada orang lain.
d. Pimpinan kelompok harus mampu menumbuhkan sikap kebersamaan dan perasaan sekelompok. Dalam tahap ini pimpinan kelompok hendaknya benar-benar aktif.
2). Peralihan
Tahap kedua ini pimpinan kelompok menguraikan kembali dan menegaskan pokok pembahasan dalam tahap pertama, seperti tujuan kegiatan kelompok, asas kesukarelaan, kerahasiaan, keterbukaan dan sebagainya.
Adapun yang dilaksanakan dalam tahap ini yaitu:
a). Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya.
b). Menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya.
c). Membahas suasana yang terjadi
d). Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota
e). Bila perlu kembali kepada beberapa aspek tahap pertama
Peran pimpinan kelompok ditahap ini antara lain:
a). Menerima suasana yang ada secara sadar dan terbuka.
b). Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kekuasaannya.
c). Mendorong dibahasnya suasana perasaan
d). Membuka diri, sebagai contoh, dan penuh empati
3). Kegiatan
Tahap ini merupakan inti dari kegiatan kelompok, maka aspek-aspek yang menjadi isi dan pengiringnya cukup banyak, dan masing-masing aspek tersebut perlu mendapat perhatian yang seksama dari pemimpin kelompok. Dalam tahap ini seluruh anggota bertukar pengalaman dalam bidang suasana perasaan yang terjadi dan pembentukan diri berlangsung.
Ada beberapa yang harus dilakukan oleh pemimpin kelompok dalam tahap ini, yaitu sebagai pengatur proses kegiatan yang sabar dan terbuka, aktif akan tetapi tidak banyak bicara, dan memberikan dorongan dan penguatan serta penuh empati.
Dalam bimbingan kelompok ada 2 kelompok yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas. Yang di maksud dengan kelompok bebas ialah masing-masing anggota secara bebas mengemukakan masalah atau topik bahasan. Dan yang di maksud dengan kelompok tugas ialah pimpinan kelompok telah menentukan suatu masalah dan topik bahasan.
4). Pengakhiran
Pada tahap pengakhiran bimbingan kelompok, pokok perhatian utama bukanlah pada berapa kali kelompok ini harus bertemu, tapi pada hasil yang telah dicapai oleh kelompok itu. Ada beberapa hal yang dilakukan pada tahap ini, yaitu:
a). Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri.
b). Pemimpin dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan.
c). Membahas kegiatan
d). Mengemukakan pesan dan harapan.
Berdasarkan pendapat tersebut, dalam pelaksanaan bimbingan kelompok terdapat 4 tahap yaitu 1) tahap pembentukan, penerimaan terhadap anggota kelompok, perkenalan anggota dan pemimpin kelompok, penyampaian maksud dan tujuan pelaksanaan bimbingan kelompok, serta melakukan ice breaking. 2) tahap peralihan, menanyakan kesiapan anggota kelompok baik secara fisik maupun psikis. 3) tahap kegiatan, pemimpin kelompok mencetuskan topik yang akan dibahas, membahas topik tersebut secara tuntas dan mendalam (apa, mengapa, bagaimana). 4) tahap pengakhiran, anggota kelompok menyampaikan kesimpulan dari hasil pembahasan topik tersebut, penyampaian kesan dan pesan oleh anggota kelompok, membuat kesepakatan pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok selanjutnya, kegiatan bimbingan kelompok diakhiri dengan berdo’a dan salam penutup.
2. Media Permainan Ular Tangga
a. Pengertian Media Permainan Ular Tangga
Media merupakan alat saluran, pengantar atau perantara pesan yang dapat merangsang seseorang untuk merespon pesan tersebut. Sedangkan permainan atau game menurut Tedjasaputro (dalam Haqiqi, 2017) menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tak terhitung banyaknya. Dalam permainan bukan hanya kesenangan yang akan didapat, tapi konsep-konsep dari ketrampilan dan pengetahuan dapat diperoleh didalamnya. (dalam Haqiqi, 2017)
Menurut Afandi (2015:80) Media permainan ular tangga yaitu media yang dikembangkan dengan berdasarkan permainan tradisional ular tangga kemudian disesuaikan dengan karakteristik siswa dengan tujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran sebagai pengantar informasi bagi siswa.
Menurut A. Husna M Mengatakan bahwa ular tangga adalah permainan yang menggunakan dadu untuk menentukan beberapa langkah yang harus dijalani bidak. Permainan termasuk dalam kategori ”board game” atau permainan papan sejenis dengan monopoli, halma, ludo dan sebagainya. Permainan ular tangga pada penelitian hampir sama dengan permainan ular tangga pada umumnya namun pada penelitian ini ular tangga sudah dimodifikasi dengan 4 kotak yang berisi pertanyaan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar tapi tetap menghibur ketika bermain dan dalam permainan ini siswa terlibat langsung permainannya.
b. Manfaat Media Permainan Ular Tangga
Manfaat permainan ular tangga menurut Yasin Yusuf dan Umi Auliya adalah sebagai berikut :
- Menghilangkan rasa keseriusan yang disebabkan oleh ketakutan yang dapat menghambat
- Menghilangkan rasa stres dalam belajar
- Melibatkan anak dalam proses belajar
- Meningkatkan proses pembelajaran
- Menambah kreativitas diri
- Saat asyik bermain maka tujuan dari permainan tersebut tanpa disadari akan tercapai
- Membuat makna dari pengalaman bermain
- Fokus pada siswa sebagai subyek
Dalam penelitian tindakan bimbingan konseling ini media permainan ular tangga dimanfaatkan untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, karena dengan bermain siswa tidak akan merasa jenuh dan membosankan karena permainan ini bersifat menghibur sehingga tanpa disadari tujuan dari permainannya akan tersampaikan.
c. Kelebihan Media Permainan Ular Tangga
Sri Mulyani (2013), menyatakan bahwa media permainan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:
- Permainan adalah sesuatu yang menghibur dan menyenangkan para pemainnya
- Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam permainan
- Permainan memberikan umpan balik langsung
- Melalui permainan bisa memungkinkan penerapan konsep
- Permainan bersifat luwes
- Permainan dapat dengan mudah dibuat dan
d. Langkah-langkah Media Permainan Ular Tangga untuk Memotivasi Belajar Siswa
Cara bermain ular tangga menurut Alamsyah Said dalam buku 95 strategi pengajar multiple intelegence (Said :2015) menjelaskan tentang langkah-langkah menggunakan ular tangga:
- Tiap siswa bergantian melempar dadu
- Jika dadu yang di atas menunjukkan angka 5, maka siswa maju berjalan 5 kotak pada permainan ular tangga.
- Jika sudah dijalankan, kotak yang berisi pertanyaan dijawab oleh siswa, jika benar siswa tersebut mendapatkan poin.
- Apabila pemberhentian poin terakhir adalah ular, makan pion harus mengikuti turunan ular tersebut.
- Pemenang dari pemain ini adalah siswa yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan benar dan terlebih dahulu finis selesai dari game papan ular tangga.
Permainan ular tangga yang diterapkan untuk penelitian tindakan bimbingan konseling ini adalah permainan ular tangga yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dimana ada 4 kotak pada papan permainan yang sudah diisi dengan pertanyaan sesuai dengan indikator dalam motivasi belajar. Langkah- langkahnya sebagai berikut :
- Tiap pemain bergantian melempar dadu dan dimulai dari kotak Start
- Setiap kotak dalam papan permainan ular tangga sudah mempunya kode berupa warna yang disesuaikan dengan kotak pertanyaan, serta gambar ular dan gambar tangga
- Jika dadu menunjukkan angka 5, maka siswa maju menjalankan pionnya sebanyak 5 kota ke depan.
- Setiap pion berhenti pemain wajib menjawab pertanyaan sesuai dengan warna di kotak tersebut (pertanyaannya dibuat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa). Kemudian anggota pemain yang lainnya memberikan
- Apabila poin berhenti di gambar ular, maka pion harus mengikuti turunan ular tersebut dan pertanyaannya akan dipilih oleh pemain lainnya.
- Apabila pemberhentian pon di gambar tangga, maka pion harus naik ke atas mengikuti tangga dan pemain tersebut bebas memilih pertanyaan yang ada di kotak untuk dijawab.
- Permainan dinyatakan selesai jika salah satu pemain menang apabila sampai duluan di kotak Finish.
C. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian sebelumnya untuk mendukung penelitian ini :
- Aniek Wirastania (2009), dengan judul penggunaan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga untuk mengurangi rasa rendah diri pada siswa kelas X A SMA Negeri 1 Surabaya. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan yang signifikan pada skor rendah diri siswa sebelum dan sesudah diberikan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga. Artinya, dalam penelitian ini siswa diajak berpikir tentang kondisi yang harus dihadapi saat ini dan lebih fokus terhadap tingkah laku sekarang. Sehingga siswa memiliki tanggung jawab pribadi dan ia dapat menerima kondisinya.
- Dyah Ayu Nugraheni (2019), dengan judul pengaruh bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga terhadap perencanaan karier siswa (Penelitian di kelas X TSM di SMK Ma’arif NU 1 Bener Purworejo Tahun Ajaran 2018/201) . Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga aa pengaruh terhadap perencanaan karier Hal ini dibuktikan bahwa bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga dapat menaikkan tingkat perencanaan karier siswa sehingga siswa dapat mengambil keputusan karier masa depan sesuai dengan keinginan dan meminimalisir kesalahan-kesalahan dalam memilih alternatif-alternatif yang ada.
D. Kerangka Berpikir
Setiap manusia mempunyai kapasitas untuk dapat menemukan dan menggunakan potensinya untuk tumbuh dan belajar secara berkelanjutan. Menurut Fauzan dan Flurentin (1994:43) sebagai makhluk yang memiliki potensi dan kekuatan, manusia dipandang mampu mengambil keputusan bagi dirinya sendiri baik itu murni pilihannya sendiri maupun berdasarkan pertimbangan dari orang lain. Berpegang pada keputusan sendiri dan tidak bergantung pada situasi, secara langsung akan menuntun pada pencapaian pribadi yang bertanggung jawab, sukses, dan memperoleh kepuasan hidup.
Dalam proses belajar dan mengajar, motivasi sangat dibutuhkan. Motivasi merupakan faktor psikologis yang menentukan intensitas usaha siswa dalam proses belajarnya. Dengan demikian perhatian yang diberikan baik oleh keluarga, pihak sekolah maupun lingkungan siswa dalam mengarahkan proses kegiatan belajar sangatlah penting. Apabila motivasi belajar siswa tinggi, maka ada kecenderungan bagi siswa untuk belajar giat dan lebih semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Untuk membantu siswa yang memiliki masalah dengan kurangnya Motivasi Belajar yang berdampak pada rendahnya prestasi yang mereka dapatkan, maka perlu diberikan suatu penanganan yang tepat yaitu dengan memberikan bimbingan kelompok. “Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya.” (Prayitno 1995:175).
Dalam penelitian Tindakan bimbingan konseling ini, peneliti mencoba untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga. Bimbingan kelompok adalah suatu layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk membahas dan mengentaskan permasalahan dengan dinamika kelompok menggunakan media permainan ular tangga karena dengan bermain siswa tidak akan merasa jenuh dan membosankan karena permainan ini bersifat menghibur sehingga tanpa disadari tujuan dari permainannya akan tersampaikan.
Bagan 2.1
Kerangka Pikir Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui Bimbingan kelompok dengan media permainan ular tangga

E. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Bimbingan Kelompok dengan Media Permainan Ular Tangga Pada Siswa Kelas VIII-D SMP Negeri 4 Lamongan Tahun Pelajaran 2023/2024”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan bimbingan konseling yang dilaksanakan secara kolaboratif maupun non kolaboratif. Dalam penelitian kolaboratif pihak yang melakukan tindakan adalah adalah guru itu sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti (Suharsimi Arikunto, 2002:17).
Penelitian ini dilakukan dalam empat tahap penelitian tindakan bimbingan konseling yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, dan diikuti dengan pengamatan yang sistematik terhadap hasil tindakan yang dilakukan (observasi) dan refleksi yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan kemudian diulangi lagi dari tahapan awal perencanaan tindakan berikutnya (Suharsimi Arikunto, 2009 : 16)

B. Subyek dan Obyek Penelitian
Menurut Arikunto (2006) “subyek penelitian adalah subyek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti, pendapat tersebut berarti bahwa orang cocok dengan karakteristik variabel yang akan diteliti.
Dalam penelitian ini, Subjek yang dimaksud adalah 7 siswa kelas VIII-D SMP Negeri
4 Lamongan yang memiliki Motivasi Belajar kategori rendah. Dalam penelitian ini, pengambilan subyek dilakukan dengan cara purposive sample yaitu pengambilan subjek atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri atau sifat yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2004). Pengambilan subyek didasarkan atas tindak lanjut dari layanan bimbingan klasikal yang telah dilaksanakan. Subyek terlebih dahulu diberikan angket mengenai motivasi belajar. Kemudian data dianalisis dan diolah, setelah diketahui hasilnya terdapat tujuh siswa yang memiliki kategori motivasi belajar rendah.
Sedangkan obyek penelitiannya adalah penggunaan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Lamongan pada semester ganjil pada bulan Agustus sampai bulan November 2023 dengan menyesuaikan jam BK.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan menurut Sukmadinata (2008:140) adalah suatu pencarian sistematik yang dilakukan oleh para pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam pendidikan dilakukan oleh guru, dosen, kepala sekolah, konselor), dalam pengumpulan data tentang pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi, untuk kemudian menyusun rencana dan melakukan kegiatan-kegiatan penyempurnaan.
Pelaksanaan tindakan meliputi siapa yang melakukan, kapan, dimana, dan bagaimana melakukannya. Skenario tindakan yang telah direncanakan dilakukan dalam situasi yang aktual pada saat yang bersamaan kegiatan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi. Arikunto (2010:13) mengemukakan konsep pokok penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang menunjukkan langkah- langkah sebagai berikut :
- Perencanaan atau Planning
- Tindakan atau action
- Pengamatan atau Observing dan,
- Refleksi atau reflection
Berdasarkan langkah-langkah penelitian tindakan maka untuk mempermudah alur penelitian dibuatlah skema prosedurnya. Berikut ini adalah tahapan dalam penelitian tindakan:
1. Tahapan Penelitian Siklus I
a. Perencanaan
Dalam tahapan ini disusun perencanaan pembelajaran untuk perbaikan pembelajaran. Dimana bukan hanya berisi tentang tujuan yang harus dicapai tetapi juga harus lebih ditonjolkan perlakuan khusus yang harus diberikan. Pada tahap ini langkah-langkahnya sebagai berikut :
- Membuat RPL (Rencana Pemberian Layanan) sesuai dengan topik yang akan
- Mengindentifikasi siswa yang menjadi peserta
- Menyusun alat evaluasi (skala penilaian)
- Menyiapkan lembar observasi
- Memilih permainan yang sesuai untuk dapat memotivasi siswa
- Menyiapkan permainan ular tangga
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan adalah perlakuan yang dilaksanakan peneliti berdasarkan perencanaan yang telah disusun. Tindakan adalah perlakuan yang dilaksanakan oleh peneliti sesuai dengan fokus masalah. Tindakan ini adalah inti dari penelitian, sebagai upaya peningkatan ataupun perubahan yang diinginkan dalam tindakan sesuai dengan model bimbingan konseling yang telah direncanakan untuk menyelesaikan masalah. Tahap pelaksanaan tindakan meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
- Tahap Pembentukan, Saya sebagai pemimpin kelompok membuka kegiatan kelompok dengan salam, menanyakan kabar mereka dan kemudian berdoa. Setelah itu saya menjelaskan tentang kegiatan dan tujuan bimbingan kelompok bagi yang belum pernah melaksanakan. Kemudian saya akan menjelaskan apa yang harus diperhatikan yaitu asas kerahasiaan (harus menjaga rahasia tentang apapun yang terjadi didalam kelompok), asas kesukarelaan (anggota kelompok dengan sukarela mengeluarkan pendapatnya tanpa ada paksaan), asas keterbukaan (anggota kelompok mengeluarkan seluruh pendapat mereka tanpa ada yang ditutupi), dan asas kenormatifan (setiap anggota harus saling menghargai ketika anggota lainnya berbicara). Lalu saya juga menjelaskan cara pelaksanannya, yaitu dengan duduk melingkar mengelilingi board permainan ular Kemudian saya meminta mereka memperkenalkan diri satu persatu(nama dan hobi), dan setelah itu kami memainkan ice breaking.
- Tahap transisi, yaitu proses pembentukan interaksi. Pada tahap ini saya menjelaskan kegiatan bimbingan kelompok dan menanyakan kesiapan mereka, saya juga mengenali suasana apabila ada anggota kelompok yang belum siap melanjutkan ketahap Jika saya merasa mereka sudah siap maka saya akan melanjutkan ketahap berikutnya.
- Tahap kegiatan Pada tahap ini saya memberitahu mereka tentang opik yang akan kami bahas. Tahap kegiatan merupakan tahapan inti yang sangat menentukan keberhasilan layanan bimbingan kelompok. Saya memberikan pemahaman dan pengenalan tentang pentingnya motivasi belajar, serta berusaha untuk menyadarkan pentingnya motivasi belajar sehingga anggota kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar.
- Tahap pengakhiran, tahapan ini merupakan penutup dari kegiatan bimbingan Adapun tahap pengakhiran ini memuat kegiatan seperti pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, seluruh anggota kelompok mengemukakan kesan terhadap kegiatan bimbingan kelompok yang telah dilaksanakan. Disini anggota kelompok bersama pemimpin kelompok menyampaikan komitmen dan pemimpin kelompok harus merangkum kegiatan dengan kalimat yang singkat namun bermakna.
C. Pengamatan (observasi)
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang proses bimbingan yang dilakukan peneliti sesuai dengan tindakan yang telah disusun. Melalui observasi peneliti dapat mencatat berbagai kelemahan dan kekuatan yang dilakukan konselor dalam melaksanakan tindakan, sehingga hasilnya dapat dijadikan masukan ketika peneliti melakukan refleksi untuk penyusunan rencana ulang memasuki putaran atau siklus berikutnya. Pengamatan dilakukan oleh konselor yang dibantu oleh rekan sejawat atau guru mitra selama proses kegiatan konseling berlangsung
D. Refleksi
Refleksi adalah aktivitas melihat berbagai kekurangan yang dilaksanakan peneliti selama tindakan. Refleksi dilakukan dengan melakukan diskusi dengan observer yang biasanya dilakukan oleh teman sejawat. Dari hasil refleksi, konselor sekolah dapat mencatat segala kekurangan yang perlu diperbaiki, sehingga dapat dijadikan dasar dalam penyusunan rencana ulang. Setelah melakukan proses pembelajaran, masih ditemukan kekurangan dari segi peneliti maupun yang diteliti. Kekurangan tersebut.
2. Tahapan Penelitian Siklus II
a. Rencana Tindakan
Pada tahap ini, peneliti merencanakan kegiatan sesuai dengan hasil analisis data pada siklus I. Rencana pada siklus II adalah memperbaiki kegiatan-kegiatan di siklus I yang masih belum sesuai dengan tujuan atau memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus I.
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan-kegiatan pada tahap ini sama dengan kegiatan pada pelaksanaan tindakan pada siklus I. Namun saat pelaksanaan bimbingan kelompok bisa diberi permainan – permainan disesuaikan dengan hasil refleksi pada siklus I. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kegiatan atau susunan kegiatan yang kurang sesuai pada siklus I.
c. Observasi
Meskipun pada siklus I telah dilaksanakan observasi, pada siklus II peneliti juga melaksanakan observasi. Pedoman observasi pada siklus I juga digunakan pada siklus II.
d. Refleksi
Data-data yang diperolah pada kegiatan-kegiatan di siklus II, dianalisis. Jika hasil analisis belum sesuai dengan tujuan penelitian tindakan dalam Bimbingan dan Konseling, maka akan dilanjutkan dengan siklus III hingga tercapai hasil yang telah ditentukan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dilaksanakan peneliti untuk memperoleh data atau informasi dalam penelitian. Menurut Sanapiah Faisal (2003:122) metode pengumpulan data dibedakan menjadi lima, yaitu: “(1) angket, (2) observasi, (3) dokumentasi, (4) interview (wawancara), dan (5) tes”. Dalam peneliatian tindakan dalam bimbingan konseling ini, teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain :
1. Observasi
Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, sesuatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikolgis (Sugiyono, 2007:203). Dua diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan.
Observasi adalah metode atau cara untuk menganalisis dan mengadakan atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara melakukan pengamatan dan pencatatan berhubungan dengan guru BK dan siswa selama proses kegiatan layanan bimbingan kelompok berlangsung. Pengamatan dilakukan tanpa mengganggu proses kegiatan layanan bimbingan kelompok. Observasi digunakan untuk mengungkap secara data tentang pelaksanaan tindakan yaitu penerapan layanan bimbingan kelompok dengan metode permainan ular tangga untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini meliputi proses/prosedur pelaksanaan kegiatan, kegiatan guru BK dalam melaksanakan tindakan, dan kegiatan siswa dalam mengikuti atau melaksanakan tindakan yang diarahkan oleh guru BK.
2. Angket
Menurut Winkel (2004), “angket adalah sejumlah item pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa secara tertulis”. Sedangkan menurut Arikunto (2006), “angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang diketahui”.
Dalam penelitian ini, angket yang digunakan adalah angket tertutup, dengan alasan mudah diolah, menghemat waktu dan biaya, dapat dilaksanakan serentak dalam waktu yang sama, responden tidak perlu menuliskan buah pikirannya. Dalam angket ini menggunakan skala Likert, menurut Sugiyono (2008) “ skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial”. Dengan skala likert variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak ukur menyusun item-item instrument yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yang dapat berupa kata-kata sebagai berikut : selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah.
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah (Arikunto, 2002:134). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil wawancara dan observasi. Data tersebut dianalisis dan hasilnya digunakan untuk menggambarkan perubahan yang terjadi, yaitu perubahan aktifitas siswa
1. Peneliti
Peneliti merupakan instrumen peneliti sekaligus sebaagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data dan pada akhirnya menjadi pelapor penelitiannya (Lexy J. Moleong, 2007:168)
2. Lembar Observasi
Dalam penelitian ini digunakan dua lembar observasi yaitu lembar observasi pelaksanaan konseling kelompok dan lembar keaktifan siswa. Peneliti mengadakan pengamatan secara langsung. Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Lembar observasi pelaksanaan kegiatan konseling kelompok. Sedangkan lembar observasi keaktifan siswa digunakan pada setiap kegiatan konseling kelompok sehingga kegiatan observasi tidak terlepas dari konteks permasalahan dan tujuan penelitian.
G. Teknik Analisa Data
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan ini, ada dua jenis data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti, yaitu :
1. Data kuantitatif yang dapat dianalisis secara Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis statistik secara deskriptif, yaitu mencari nilai rerata hasil motivasi belajar siswa. Untuk mencari hasil rerata motivasi belajar siswa, peneliti menggunakan rumus mean yang ditimbang, yaitu mean yang memperhitungkan frekuensi tiap-tiap variabel, dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Setelah melakukan perhitungan ini, maka data yang diperoleh akan dideskripsikan sehingga mudah dipahami dengan merujuk pada kriteria yang telah ditentukan.
2. Data kualitatif, yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang tingkat motivasi belajar siswa, pandangan atau sikap siswa dalam mengikuti kegiatan bimbingan kelompok, aktifitas siswa mengikuti bimbingan kelompok, perhatian, antusias dalam kegiatan, kepercayaan diri, motivasi berubah, dan sejenisnya dapat dianalisis dengan data kualitatif.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan sesuai dengan rencana penelitian tindakan yang akan dilakukan. Kegiatan yang dilakukan sebelum melaksanakan tindakan dalam meningkatkan motivasi belajar dengan memberikan angket motivasi belajar saat melaksanakan bimbingan klasikal dengan materi motivasi belajar. Kegiatan ini juga didasarkan atas masukan yang diperoleh dalam diskusi dengan guru pembimbing SMP Negeri 4 Lamongan dan penulis. Selain itu data juga diambil dari informasi yang diberikan oleh wali kelas. Dari hasil angket yang sudah disebar dan dianalisis diketahui 7 siswa yang terindikasi mengalami motivasi belajar yang rendah.
Adapun cara untuk mengetahui nilai dari mean, dan standar deviasi dapat menggunakan program Microsoft excel, dengan cara sebagai berikut :
a. Mean, perintah : Formulas – Insert Function – Average = 126,39
b. Standar Deviasi, perintah : Formulas – Insert Function – STDEV = 11,7
c. Skor tertinggi, perintah : Formulas – Insert Function – MAX = 146
d. Skor terendah, perintah : Formulas – Insert Function – MIN = 102
Dari perhitungan ini dapat dikategorikan sebagai berikut :
1). Kategori Tinggi = Mean + 1 SD ≥ X
= 126,39 + (1 x 11,7) ≥ X
= 138,09 ≥ X
= 138, artinya skor tinggi mulai dari 138 sampai keatas.
2). Kategori sedang = Mean – 1 SD ≤ X < Mean + 1 SD






