Dukungan Lia terhadap evaluasi tersebut juga tidak terlepas dari kejadian dugaan keracunan MBG di Kabupaten Sidoarjo. Pada Rabu malam (2/9/2026), ia turun langsung mengunjungi sejumlah korban yang masih menjalani perawatan.

Lia menyempatkan diri menemui para korban, termasuk santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam yang menjadi salah satu kelompok dengan jumlah korban cukup besar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lebih dari 400 santri dari lingkungan pesantren tersebut dilaporkan terdampak dalam kejadian tersebut. Bagi Lia, kondisi itu menjadi perhatian serius karena mayoritas penerima manfaat program MBG merupakan anak-anak dan pelajar yang membutuhkan perlindungan maksimal.

Saat berada di rumah sakit, Lia tidak hanya melihat kondisi fisik korban, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada para santri. Ia berharap seluruh korban segera pulih dan dapat kembali menjalankan aktivitas seperti biasa.

“Keprihatinan saya sangat mendalam kepada seluruh korban, khususnya anak-anak dan para santri yang harus menjalani perawatan. Semoga semuanya segera diberikan kesembuhan,” tutur Lia.

Menurut Lia, perhatian terhadap korban harus menjadi prioritas dalam setiap kejadian serupa. Setelah penanganan medis dilakukan, pemerintah juga perlu memastikan proses evaluasi berjalan transparan dan menghasilkan perbaikan yang konkret.

Lia mendorong agar pertemuan seluruh pengelola SPPG di Jawa Timur nantinya tidak sekadar menjadi forum koordinasi. Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan langkah teknis yang dapat diterapkan secara seragam oleh seluruh SPPG.

Beberapa aspek yang dinilai perlu mendapat perhatian antara lain standar pemilihan bahan baku, kebersihan dapur, pengolahan dan penyimpanan makanan, pengawasan masa simpan, pengemasan, pengangkutan serta prosedur ketika ditemukan makanan yang berpotensi bermasalah.

Selain itu, koordinasi antara SPPG, pemerintah daerah, satuan pendidikan, pesantren, tenaga kesehatan, dan pihak terkait lainnya juga dinilai penting untuk mempercepat respons apabila muncul keluhan dari penerima manfaat.

Lia berharap evaluasi tersebut dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari kualitas, keamanan, dan manfaat yang diterima masyarakat.

“Yang kita inginkan tentu program MBG semakin baik. Evaluasi harus menghasilkan perbaikan nyata, sehingga masyarakat merasa aman dan manfaat program ini benar-benar bisa dirasakan,” pungkasnya.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2