Ranu hanya bisa diam ketika sebuah pukulan kembali mendarat di perutnya berulang kali. Meski dia sudah mengeraskan perutnya dengan menahan napas, namun masih saja terasa nyeri ketika pukulan Sanjaya bersarang di perutnya.
Bugh! Bugh!
Ranu jatuh tersungkur ketika dua pukulan tepat mengenai ulu hatinya dan membuatnya sulit bernapas. Tanpa mengaduh sedikit pun, bocah malang itu memegangi ulu hatinya yang nyeri.
“Hahahaha … inilah akibatnya jika kau tidak punya bakat ilmu kanuragan. Kau hanya akan terus menjadi pecundang!”
Mendengar ucapan Sanjaya yang mengejeknya, emosi Ranu pun tersulut, “Aku bukan pecundang!” ucapnya lirih.
“Pecundang tetap pecundang. Meski kamu berlatih seratus tahun sekalipun, kamu tidak akan bisa menjadi sekuat aku!” sahut Sanjaya dengan sombongnya.
“Ayo kita tinggalkan pecundang ini disini!”
Sanjaya melangkah pergi dengan puas diikuti empat orang teman yang juga abdi setianya.
Ranu dan kedua orang tuanya adalah salah satu penduduk Dusun Karangasri. Dia dan sebagian besar penduduk dusun tersebut bisa dibilang tidak beruntung karena tidak bisa mempelajari ilmu kanuragan. Faktor ekonomi berperan sangat besar terhadap ketidakmampuan mereka belajar ilmu kanuragan.
Hal itu disebabkan karena mayoritas penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, dan juga karena jarak yang lumayan jauh untuk mencapai Perguruan Elang Hitam dan juga Perguruan Teratai Putih yang berada di dusun lain.
Hanya ada beberapa saja penduduk di dusun tersebut yang baru sekitar lima tahun ke belakang mempelajari ilmu kanuragan, itupun karena mereka memiliki kekayaan yang cukup untuk membayar biaya masuk dan biaya hidup selama berlatih di perguruan.
Sudah jamak diketahui, bahwa untuk masuk dan berlatih di sebuah perguruan silat, setiap orang harus membayar sejumlah biaya yang nominalnya tidak sedikit. Dan bagi penduduk di Dusun Karangasri yang mayoritas kehidupannya di bawah garis kemiskinan, tentunya itu menjadi hal yang berat
Khusus Ranu, bukan hanya faktor ekonomi yang hanya menjadi penghambatnya, namun juga ucapan salah satu tetua Perguruan Elang Hitam yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mempelajari ilmu kanuragan sampai kapanpun juga.
Hal itu dikarenakan dia memiliki detak nadi dan juga aliran darahnya yang tidak beraturan. Sehingga dirinya tidak akan bisa menyimpan tenaga dalam di tubuhnya. Berbagai jenis ramuan ataupun bentuk terapi, tidak akan berguna untuk menyembuhkan ‘penyakit’ yang aneh tersebut.
Bagi mereka yang ingin menjadi seorang pendekar, detak nadi dan aliran darah yang tidak beraturan adalah mimpi paling buruk diantara yang terburuk. Jika faktor ekonomi masih bisa dicari solusinya, tapi yang dialami Ranu tidak akan ada obatnya.
Ranu kemudian berusaha bangkit dan berjalan sambil tertatih-tatih menuju rumahnya. Matanya nanar dan berkunang-kunang akibat hajaran tadi. Dia kemudian meraih sebuah ranting kayu lumayan panjang dan memiliki ukuran sebesar jempol kaki untuk menopang tubuhnya.
Di tengah perjalanan, Ranu melewati sebuah kompleks reruntuhan kuil kuno kecil yang sudah tidak terawat lagi. Karena merasa ulu hatinya masih terasa perih akibat pukulan Sanjaya tadi, dia pun kemudian memasuki kompleks reruntuhan kuil kuno tersebut dan duduk di sebuah bangunan kecil yang masih tersisa.
Sambil terus memegangi ulu hatinya, matanya memandang ke sekeliling untuk melihat bekas reruntuhan kuil kuno tersebut.
Tatapan matanya tiba-tiba terhenti ketika melihat sebuah lantai kayu yang sedikit terbuka. Samar-samar dia melihat di bawah lantai kayu itu, ada sebuah kitab yang sepertinya sengaja disembunyikan di bawahnya.
Kitab tersebut mempunyai sampul berwarna kuning kemerahan dan sedikit tebal. Ranubaya yang merasa penasaran dengan keberadaan kitab tersebut, kemudian berdiri dan membuka lantai kayu dengan perlahan.
Tangannya bergerak mengambil kitab tersebut, namun tiba-tiba dia merasakan rasa sakit dan panas seperti tergigit sesuatu hewan atau semacamnya.
Meski rasa sakit masih terasa, dia nekat untuk membongkar lantai kayu untuk mengambil kitab dan juga untuk menjawab rasa penasaran apa yang membuat tangannya terasa sakit. … (bersambung)
Penulis: AL





