Bab 1 Perundungan
Di suatu siang yang terik di Dusun Karangasri, terlihat 5 orang anak lelaki berumur sekitar 12 tahun yang sedang bersantai di sebuah pohon besar berdaun lebat.
Salah seorang di antaranya terlihat menunjuk kepada seorang anak lelaki yang seumuran sebaya dengan mereka bertiga.
“Sanjaya, Lihat … itu ada si pecundang lewat!” serunya dengan raut muka berseri-seri.
“Wah … Kebetulan sekali dia lewat sini. Kemarin dia bisa lolos, namun sekarang aku pastikan dia akan menerima pukulan dariku!” ucap seorang anak berbadan paling besar di antara sekumpulan anak tersebut.
Namanya adalah Sanjaya, anak seorang saudagar kaya di kampung tersebut. Bakat ilmu kanuragannya juga paling tinggi di antara teman sebayanya, bahkan yang secara umur sedikit di atasnya. Sudah lima tahun dia dikirim ayahnya untuk berlatih ilmu kanuragan di Perguruan Elang Hitam.
“Cepat cegat dia dari belakang dan depan! Pastikan dia tertangkap atau kalian yang akan kuhajar!” sambung Sanjaya penuh semangat.
Empat orang anak lelaki tersebut langsung berlari ke depan dan di belakang anak yang ditunjuk tadi masing-masing dua orang. Tanpa perlawanan, mereka berempat bisa dengan mudah meringkus anak tersebut.
Sanjaya dengan membusungkan dadanya mendekati mereka berlima, “Pegangi dia!”
Sebuah pukulan langsung dilepaskan Sanjaya dan secara telak mengenai perut korbannya yang sudah tidak bisa berkutik sama sekali.
Buuuugh!
Bruaaaak!!!
“Cuih, Dasar pecundang kau, Ranu! Buat apa kau hidup jika kau tidak mempunyai bakat sama sekali. Lebih baik kau mati saja!” bentak Sanjaya selepas meludah ke wajah pemuda yang dipanggilnya Ranu.
Seringai tawa mengejek terdengar dari lima pemuda yang menertawakan teman sepermainan, atau lebih tepatnya korban kejahilan mereka setiap hari, yang baru saja jatuh menimpa sebuah tumpukan kayu.
Ranubaya, atau akrab disebut Ranu, korban kejahilan sekumpulan anak-anak tersebut, hanya diam meringis menahan rasa sakit di pinggang dan punggungnya. Entah, kali ini sudah yang keberapa kalinya dia harus menahan sakit akibat kejahilan teman – temannya. Dia sudah lelah untuk menghitungnya karena saking seringnya dibuat celaka.
Ingin rasanya dia mengadu kepada orang tuanya tentang perlakuan Sanjaya dan teman temannya, tapi apa daya, orang tuanya hanya sepasang suami istri miskin yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah miskin, tidak punya ilmu kanuragan pula.
Dia teringat pernah suatu hari selepas dia dikerjai oleh Sanjaya dan teman-temannya, Ranu mengadu kepada ayahnya. Namun jawaban yang keluar dari mulut ayahnya tersebut tidak sesuai yang diharapkannya. Seorang ayah yang dia harapkan bisa menolongnya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa.
“Ranu anakku, ayah hanya bisa bilang sabar kepadamu, Nak. Kita ini orang miskin dan tidak punya kemampuan apa-apa untuk melawan mereka. Kalau kau ingin melawan mereka, kau harus menjadi lebih kuat entah apapun cara yang akan kau lakukan.”
Ranu diam menunduk mendengar ucapan ayahnya. Dia tahu kehidupan keluarganya tidak seberuntung keluarga yang lainnya di kampung tersebut. Oleh sebab itu dia berjanji tidak akan pernah mengeluh dan mengadu lagi kepada orang tuanya.
“Aku harus lebih kuat!” ucapnya bertekad dalam hati.
Ranu menatap wajah ayahnya lekat-lekat. Dia melihat sosok yang teduh dan bertanggung jawab kepada keluarga. Meskipun hidup dalam kesusahan, dia tidak pernah melihat kedua orang tuanya mengeluh atas kehidupan yang mereka alami. Senyum selalu tersungging di bibir orang tuanya, meski penderitaan tiap waktu bisa saja datang menghampiri.
“Cokro, Kirno, angkat dia!” perintah Sanjaya.
Dua orang teman atau bisa dibilang sudah seperti anak buah Sanjaya, langsung bergerak mengangkat kedua lengan Ranu.
Bugh!





