Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), PIK 2 diharapkan tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga membawa manfaat sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Evita menekankan pentingnya integrasi produk UMKM lokal ke dalam layanan hotel, restoran, dan destinasi wisata di kawasan tersebut.
Ia juga menyoroti potensi besar PIK 2 sebagai etalase promosi pariwisata Provinsi Banten. Lokasinya yang berdekatan dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinilai menjadi keunggulan strategis. Komisi VII bahkan mendorong adanya layanan shuttle dan paket wisata singkat bagi wisatawan transit agar dapat mengenal destinasi ini.
Dari sisi tata kelola, PIK 2 dinilai telah menerapkan konsep wisata bersih dan berkelanjutan. Pengelolaan kawasan yang tertata, sistem pengolahan limbah yang baik, serta pemanfaatan kembali air olahan menjadi contoh praktik pembangunan berwawasan lingkungan yang sejalan dengan program nasional.
Sementara itu, Presiden Direktur Agung Sedayu Group, Nono Sampono, menyambut baik masukan dan evaluasi dari Komisi VII DPR RI. Ia menegaskan bahwa pengembangan PIK 2 diarahkan untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami terus berupaya agar PIK 2 tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar, termasuk melalui program pemberdayaan UMKM dan koperasi desa,” ujarnya.
Dengan pendekatan kawasan terpadu dan keterlibatan multi-sektor, PIK 2 diharapkan dapat menjadi role model pengembangan pariwisata urban yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.





