“Faktor lainnya adalah meninggalkan salah satu pihak sebanyak 202 perkara, perselingkuhan atau zina 159 perkara, judi 108 perkara, serta mabuk dan penyalahgunaan narkotika sebanyak 46 perkara,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Pengadilan Agama Lamongan juga mencatat adanya perkara perceraian akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 93 perkara. Sementara alasan kawin paksa tercatat 12 perkara dan cacat badan sebanyak 3 perkara.
Hingga akhir tahun 2025, masih terdapat 183 perkara perceraian yang belum terselesaikan dan akan dilanjutkan proses persidangannya pada tahun 2026.
Secara keseluruhan, jumlah perkara perceraian di Lamongan mengalami kenaikan signifikan dibandingkan tahun 2024. Jika pada 2024 jumlah perkara yang dikabulkan sebanyak 1.857, maka pada 2025 meningkat menjadi 2.525 perkara atau naik sekitar 36 persen.
Peningkatan ini menjadi perhatian serius, mengingat tingginya angka perceraian mencerminkan berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, khususnya dalam ketahanan keluarga.





