“Biasanya beli satu kilogram, sekarang paling setengah kilo. Semua naik, jadi harus irit,” ujar Siti Aminah, salah satu pembeli di Pasar Sidoharjo.

Para pedagang menduga lonjakan harga bahan pokok disebabkan oleh cuaca ekstrem dan gangguan distribusi dari wilayah penghasil. Curah hujan tinggi di beberapa daerah pemasok menyebabkan pasokan sayuran dan bumbu dapur menjadi tidak lancar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Kemungkinan karena cuaca. Banyak pasokan dari luar daerah yang terlambat datang, jadi stok di pasar berkurang,” tutur Surti.

Beberapa komoditas, terutama cabai dan bawang merah, diketahui berasal dari daerah penghasil seperti Blitar, Kediri, dan Banyuwangi. Gangguan transportasi akibat cuaca buruk membuat harga di tingkat pengecer naik lebih cepat dari biasanya.

Para pedagang berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga. Salah satunya dengan melakukan operasi pasar murah atau penambahan pasokan dari daerah lain agar harga tidak terus melonjak menjelang akhir tahun.

“Kami harap pemerintah bisa bantu menstabilkan harga. Kalau naik terus, pembeli makin sepi, kami juga rugi,” kata Khusnul.

Kenaikan harga bahan pokok ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat serta menekan pendapatan pedagang kecil di pasar tradisional. Dinas Perdagangan Lamongan diharapkan segera melakukan pemantauan harga harian (HPI) dan berkoordinasi dengan Bulog untuk menjaga ketersediaan pasokan.

Jika kondisi cuaca ekstrem terus berlanjut, diperlukan langkah mitigasi seperti stabilisasi logistik antarwilayah, subsidi transportasi komoditas pertanian, dan pemerataan distribusi pasokan antar pasar agar harga tidak melonjak lebih tinggi menjelang akhir tahun.(Bs).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2