“Dengan perubahan sistem menjadi berbasis kafilah dan syarikah, tantangan utamanya adalah komunikasi. Namun, KBIHU Darmus sangat cepat dalam menjalin komunikasi dengan pihak syarikah, sopir armada, hingga pendamping jamaah. Inilah yang membuat kami bisa tetap nyaman, tidak terlantar saat mabit di Muzdalifah, dan bisa menunaikan rangkaian ibadah secara tenang,” ungkapnya.
Aris Wibawa, Ketua KBIHU Darmus, mengungkapkan bahwa sejak awal pihaknya telah memetakan potensi tantangan dan melakukan langkah antisipasi secara matang.
“Kami menyadari bahwa tahun ini berbeda karena sistem syarikah yang digunakan tidak lagi satu, tetapi terdiri dari beberapa unit layanan. Ini artinya, kita tidak bisa menggunakan pola lama. Perlu penyesuaian cepat di lapangan. Koordinasi dengan ketua kafilah 59 menjadi kunci. Kami sepakat melakukan update informasi minimal setiap satu jam,” jelasnya.
Koordinasi yang dimaksud mencakup beragam aspek, mulai dari pengelolaan kartu Nusuk, pengaturan koper jamaah, penyediaan kursi roda, hingga pengelolaan jamaah yang perlu disafariwukufkan atau dirujuk ke rumah sakit.
Bahkan ketika Aris sebagai ketua KBIHU berada di hotel dan syarikah yang berbeda dari jamaahnya, upaya pengumpulan jamaah di satu hotel dilakukan untuk memudahkan komunikasi dan pendampingan.
“Sebagian besar jamaah kami baru pertama kali keluar negeri. Mereka belum memahami kultur dan aturan di luar negeri. Apalagi banyak dari mereka lansia dan berisiko tinggi. Jadi pendekatan kami adalah pelayanan berbasis kasih dan empati,” lanjut Aris.
Pada tahap pergerakan Armina (Arofah, Muzdalifah, dan Mina), KBIHU Darmus juga menerapkan strategi satu tenda dan satu bus, meski berasal dari syarikah yang berbeda.
Hal ini untuk mempermudah proses transportasi, logistik, dan konsumsi. Semua langkah tersebut mendapat persetujuan penuh dari ketua kafilah 59, yang juga menunjukkan kolaborasi lintas struktur yang sangat baik.
Pelaksanaan ibadah haji memang tidak sekadar soal fisik, tetapi juga soal manajemen, pelayanan, dan kemanusiaan. KBIHU Darmus membuktikan bahwa dengan komunikasi kasih dan strategi koordinatif yang matang, hambatan teknis maupun administratif bisa diatasi tanpa mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan ibadah jamaah.
Keberhasilan pergerakan jamaah Lamongan ini juga menjadi contoh baik dalam pengelolaan haji di tengah transisi sistem nasional dan internasional.
Komunikasi antar pemangku kepentingan, respons cepat terhadap kondisi lapangan, serta pendekatan empatik kepada jamaah menjadi elemen-elemen penting yang patut diadopsi oleh KBIHU lainnya di masa mendatang.
Dengan semangat pelayanan dan kasih, perjalanan ibadah haji tahun ini bukan hanya menjadi pengalaman spiritual yang mendalam, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang penuh makna bagi seluruh jamaah Kabupaten Lamongan, khususnya yang tergabung dalam KBIHU Darmus.(*)





