Pimpinan tertinggi di wilayah berjuluk Kota Soto ini juga memastikan bahwa suplai bantuan air bersih akan terus digelontorkan secara berkelanjutan, menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan riil di lapangan. Bagi masyarakat atau wilayah lain yang mengalami krisis serupa, diimbau untuk segera berkoordinasi dan mengajukan permohonan resmi melalui pemerintah desa atau kecamatan setempat agar dapat segera diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh BPBD.
Di samping penanganan darurat melalui drop-off, Pemkab Lamongan secara serius menyiapkan solusi struktural jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air. Salah satu fokus utama pemerintah daerah adalah melakukan investigasi survei teknis serta pengerukan besar-besaran pada waduk di Desa Kedungkumpul yang memiliki luas sekitar 1,8 hektare. Langkah ini diharapkan mampu memaksimalkan daya tampung air saat musim hujan tiba, sehingga cadangan air dapat bertahan lebih lama ketika musim kemarau kembali melanda.
“Kami akan segera menerjunkan tim teknis untuk melakukan survei dan pengerukan waduk ini. Ketika musim kemarau tiba, waduk sering kali menjadi satu-satunya tumpuan dan sumber air yang dapat diandalkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, kapasitas tampungnya mutlak harus ditingkatkan agar memberikan manfaat yang jauh lebih luas dan berkesinambungan,” tambahnya.
Sebagai pamungkas, Bupati Yuhronur mengungkapkan bahwa pemerintah daerah juga tengah menggenjot proyek perluasan jaringan pipa penyediaan air bersih melalui pengembangan sistem distribusi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Mojolagres. Saat ini, jaringan layanan tersebut telah sukses menjangkau Kecamatan Kembangbahu dan ke depan akan terus diperluas secara bertahap hingga menjangkau wilayah Kecamatan Sarirejo, yang diyakini akan menjadi solusi permanen pemenuhan air bersih bagi masyarakat Lamongan bagian selatan.
Program penyaluran air bersih ini pun disambut antusias dan apresiasi hangat dari warga setempat. Pasalnya, ketersediaan air sumur di permukiman mereka selama musim kemarau selain sangat terbatas volumenya, juga kerap berbau dan tidak layak konsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.





