Dedie menyatakan kesiapan Pemkot Bogor untuk memfasilitasi konektivitas antara program pendidikan di pesantren tersebut dengan sistem pengelolaan sampah yang telah berjalan di wilayah Bogor Selatan.
”Konsep Eco Saintek ini tidak boleh berhenti di teori. Harus diwujudkan dalam praktik harian para santri. Kami sedang menggalakkan pemilahan sampah dari hulu ke hilir, dan kehadiran Muhammadiyah melalui sekolah ini sangat strategis sebagai mitra pelopor,” jelas Dedie.
Dalam kesempatan yang sama, Dedie memaparkan langkah konkret Pemkot Bogor dalam mengatasi masalah sampah, di antaranya:
Pembangunan PLTSa Galuga: Diproyeksikan mengolah 1.500 ton sampah per hari.
Pembangunan PLTSa Kayumanis: Dirancang dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari.
Kehadiran unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang sejalan dengan semangat teknologi ramah lingkungan yang diajarkan di SMA Eco Saintek Muhammadiyah.
Dengan resminya pengoperasian Pesantren SMA Eco Saintek Muhammadiyah, masyarakat Kota Bogor kini memiliki alternatif pendidikan menengah yang holistik. Melalui kurikulum yang memadukan spiritualitas, literasi teknologi, dan kesadaran ekologis, sekolah ini optimistis mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlangsungan planet bumi.





