BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Perayaan Idulfitri selalu identik dengan sajian kuliner khas yang menggugah selera. Berbagai hidangan seperti opor ayam, rendang, hingga aneka kue kering tersaji di hampir setiap rumah sebagai simbol kebersamaan dan kebahagiaan. Namun di balik euforia tersebut, para tenaga medis mengingatkan adanya potensi risiko kesehatan yang kerap meningkat setelah perayaan Lebaran.
Kebiasaan makan berlebihan saat bersilaturahmi menjadi salah satu faktor utama pemicu gangguan kesehatan. Dalam suasana penuh kehangatan, banyak orang tidak menyadari jumlah makanan yang dikonsumsi, terutama makanan tinggi lemak, santan, dan garam. Pola konsumsi yang tidak terkontrol ini berpotensi memicu berbagai penyakit, khususnya hipertensi dan kolesterol tinggi.
Dokter spesialis penyakit dalam menjelaskan bahwa penyebab gangguan kesehatan pasca-Lebaran tidak hanya berasal dari jenis makanan, tetapi juga dari porsi yang berlebihan serta metode pengolahan yang kurang sehat.
“Makanan yang digoreng, menggunakan santan kental, dan tinggi garam menjadi kombinasi yang berisiko jika dikonsumsi secara berlebihan dalam waktu singkat,” ujarnya.
Selama ini, sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa daging kambing menjadi penyebab utama naiknya tekanan darah. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Risiko hipertensi lebih dipengaruhi oleh cara memasak dan pola makan secara keseluruhan, bukan semata-mata jenis bahan makanan.
Selain hipertensi, lonjakan kadar kolesterol juga menjadi keluhan yang sering muncul setelah Lebaran. Konsumsi makanan berlemak tinggi seperti gorengan, makanan bersantan, dan hidangan manis dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar lemak dalam darah, yang jika dibiarkan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan lebih serius.





