Ketua Alumni Dusun Kudu, Manan, menyampaikan bahwa dusunnya memiliki sejarah panjang dalam seni dan budaya. Dahulu, Dusun Kudu dikenal memiliki kelompok ludruk Putra Budaya. Namun, seiring perkembangan zaman, kesenian tersebut perlahan menghilang.
“Sekarang kami menghadirkan wayang kulit agar tradisi seni budaya tetap hidup dan dikenal generasi muda,” ujarnya.
Camat Deket Suwanto Sastrodiharjo mengaku kagum dengan kekompakan dan kreativitas warga Dusun Kudu. Ia menilai semangat gotong royong yang ditunjukkan warga patut menjadi contoh bagi dusun-dusun lain di Lamongan. Mewakili Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang berhalangan hadir, Suwanto berjanji akan menyampaikan aspirasi warga, khususnya terkait persoalan banjir yang kerap merendam jalan penghubung Desa Sidomulyo–Desa Weduni dengan ketinggian air mencapai sekitar 30 sentimeter.
Selain menjadi ruang penyampaian aspirasi, sedekah bumi juga diisi dengan kegiatan sosial. Panitia membagikan bingkisan kepada warga, serta bantuan khusus bagi 10 janda lanjut usia yang disalurkan oleh H. Ruslan.
Ketua Panitia, Kadin Suprapto, menjelaskan bahwa sedekah bumi di Dusun Kudu dilaksanakan setiap tahun. Namun, untuk perayaan yang lebih besar dan meriah, kegiatan tersebut digelar dua tahun sekali.
“Ini adalah bentuk kesepakatan warga. Setiap dua tahun, sedekah bumi dirayakan lebih semarak sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan,” pungkasnya.





