Menanggapi penurunan stok tersebut, Bahlil menyatakan proses pencampuran atau blending untuk memproduksi Pertalite sedang berlangsung di kilang.
Pemerintah memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan ketahanan stok Pertalite ke kisaran 20 hari adalah sekitar satu pekan.
“Mungkin untuk mencapai di angka 20 hari itu ya kita butuh waktu seminggu. Seminggu selesai. Tapi di 16-18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penurunan ketahanan stok menjadi 16–18 hari tidak serta-merta berarti pasokan Pertalite berada di bawah batas minimum yang ditetapkan.
Meski demikian, perkembangan stok tetap menjadi perhatian karena Pertalite merupakan salah satu BBM yang banyak digunakan masyarakat. Ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi faktor penting untuk menjaga kebutuhan konsumen tetap terpenuhi.
Bahlil juga menyebut kondisi stok BBM jenis lain masih terkendali. Jenis BBM yang disebut tidak mengalami persoalan tersebut meliputi Biosolar, Pertamax RON 92, Pertamax Green RON 95, dan Pertamax Turbo RON 98.
“Biosolar, RON 92, RON 95, RON 98 itu tidak ada masalah, yang terjadi pergeseran itu RON 90,” kata Bahlil.
Dengan demikian, perhatian pemerintah saat ini tertuju pada peningkatan kebutuhan Pertalite di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Penurunan ketahanan stok Pertalite menjadi gambaran bagaimana perubahan harga BBM nonsubsidi dapat memengaruhi pola pembelian masyarakat dan kebutuhan pasokan BBM bersubsidi.
Ke depan, perkembangan stok dan penyaluran Pertalite akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah proses pemulihan pasokan berjalan sesuai perkiraan pemerintah.
Pemerintah memperkirakan ketahanan stok dapat kembali ke kisaran 20 hari dalam waktu sekitar sepekan. Namun, perkembangan realisasi produksi, penyaluran, dan permintaan masyarakat tetap perlu dipantau untuk memastikan ketersediaan BBM tetap terjaga.





